Mengenal D-dimer, Keadaan yang Paling Ditakuti Dokter Saat Tangani Pasien COVID-19
Health

Mantan Menteri BUMN Dahlan Iskan mengungkap istilah 'D-dimer' yang jarang diketahui orang awam. Istilah ini sendiri diketahuinya kala terpapar virus corona (COVID-19).

WowKeren - Mantan Menteri BUMN Dahlan Iskan baru-baru ini mengungkap istilah "D-dimer" yang jarang diketahui orang awam. Ia sendiri mengaku baru mengetahui istilah ini setelah terpapar COVID-19.

"Kalau saja tidak terkena COVID-19, mungkin saya tidak kenal istilah ini, D-dimer," ujar Dahlan, Selasa (9/2). Dahlan diketahui terpapar COVID-19 pada Januari lalu dan mengharuskannya menjalani perawatan di rumah sakit.

Pada saat menjalani perawatan, tingkat D-dimer dalam darah Dahlan mencapai angka 2.600. "Saya bersyukur tim dokter memasukkan D-dimer ke dalam daftar yang harus dicek. Lalu ketahuanlah angka 2.600 tersebut. Kelewat tinggi. Normalnya, maksimum 500," ungkapnya.

Sebenarnya apa sih D-dimer itu? Berikut ini penjelasannya.

Photo-INFO

Berbagai Sumber

Dokter spesialis penyakit dalam, dr Andi Khomeini Takdir Haruni, Sp.PD-KPsi mengatakan di dalam tubuh manusia ada fragmen protein yang dapat membantu pembekuan darah. Biasanya, darah membentuk gumpalan atau bekuan darah untuk menutup dan memulihkan luka, serta menghentikan pendarahan. Hal ini merupakan yang normal terjadi.

Namun dalam kasus tertentu, seperti COVID-19 biasanya darah pasien mengalami hiperkoagulabilitas sehingga lebih mudah menggumpal. "Tidak otomatis semua pasien begitu, tapi (orang dengan COVID-19) potensial mengalami penggumpalan darah," kata dokter Koko, dikutip Kompas, Selasa (9/2).

Normalnya, D-dimer seseorang berada di bawah angka 0,5 miligram per liter. Nah, semakin tinggi D-dimer dalam darah seseorang artinya bahwa orang tersebut rentan mengalami penggumpalan darah di dalam tubuhnya. " D-dimer adalah penanda potensial terjadi pengentalan darah," ujarnya.

Jadi, D-dimer adalah munculnya 'cendol-cendol' atau gumpalan di dalam darah. Lapisan protein tertentu dalam darah menyatu dengan 'teman sejenis' sehingga membentuk gumpalan kecil-kecil. Saking kecilnya gumpalan itu tidak terlihat oleh mata, namun bisa dilihat oleh mikroskop.

Bahaya Pembekuan Darah Pada Pasien COVID-19

Photo-INFO

Berbagai Sumber


Pasien COVID-19 ada baiknya dievaluasi terlebih dahulu, apakah darahnya potensial menggumpal atau tidak. Pasalnya, ketika terjadi penggumpalan darah maka seseorang lebih berisiko mengalami penyakit kardiovaskuler seperti serangan stroke atau serangan jantung. "Ketika seseorang mengalami pengentalan darah yang tak diantisipasi, bisa disusul dengan penggumpalan darah yang membentuk trombus dan atau emboli," papar dokter Koko.

Menurut Jurnal Radiology, para ahli menyoroti sebagian besar dari penderita COVID-19 parah menunjukkan tanda-tanda pembekuan darah yang dapat menimbulkan komplikasi yang mengancam nyawa. Pembekuan darah merupakan mekanisme alami sebagai respons tubuh terhadap cedera. Tapi, saat gumpalan terbentuk dalam pembuluh darah, ini dapat membatasi aliran darah.

Kejadian tersebut dikenal sebagai trombus, yang dapat menyebabkan keadaan darurat medis yang parah. Apabila trombus terlepas dan menyebar ke bagian tubuh lain, disebut sebagai embolus.

Emboli yang mencapai paru-paru, otak, atau jantung, dapat mengancam jiwa. Trombus dan emboli menjadi masalah pada orang dengan COVID-19, karena virus corona dapat menginfeksi sel di paru-paru.

Dalam kasus parah, keadaan ini dapat menyebabkan peradangan di paru-paru dan sesak napas. "Dari analisis semua data medis, laboratorium, dan pencitraan yang tersedia saat ini tentang Covid-19, menjadi jelas bahwa gejala dan tes diagnostik tidak dapat dijelaskan hanya dengan gangguan ventilasi paru," ujar Profesor Edwin van Beek dari Queens Medical Research Institute di Universitas Edinburgh di Inggris.

Bagaimana cara mengatasi D-dimer?

Photo-INFO

Berbagai Sumber

Menurut dokter Koko kita harus terus menerapkan pola hidup sehat seperti mengonsumsi makanan sehat, tidak makan gorengan, mengontrol konsumsi gula, olahraga rutin, dan tidak merokok. "Pada pasien yang dirawat yang ditemukan angka D-dimer tinggi, dokter akan melakukan evaluasi berkala dan juga memberikan obat tertentu untuk mengatasi kondisi hiperkoagulabilitas itu," sarannya.

Terkait penggumpalan darah ini sendiri kerap disebutkan jika minum banyak air putih saja bisa mencegah kondisi fatal. Namun, dokter jantung dari RS Siloam dr Vito A Damay, SpJP(K) meluruskan anggapan tersebut.

Istilah 'darah mengental' menurutnya adalah oversimplifikasi dari kondisi osmolalitas darah yang meningkat sehingga terjadi hemokonsentrasi. "Tapi darah mengental ini sebenarnya beda dengan darah menggumpal atau adanya bekuan darah pada covid. Jadi harus hati hati dengan istilah istilah ini," terang dr Vito.

Pada umumnya, banyak minum air putih adalah anjuran sehat yang perlu diikuti. Namun tidak serta-merta bisa menggantikan fungsi antikoagulan yang digunakan untuk mencegah dampak fatal pengentalan maupun penggumpalan darah pada COVID-19. "Yang jelas penggumpalan dan pembekuan darah pada kasus COVID-19 memang dapat mengakibatkan venous thromboembolism dan pulmonary embolism yang fatal, dan obatnya jelas bukan dengan minum air yang banyak," pungkasnya.

(wk/nidy)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait