Diperingatkan PBB Soal Kudeta, Militer Myanmar: Kami Terbiasa Dengan Sanksi
Getty Images
Dunia

Utusan khusus PBB untuk Myanmar, Christine Schraner Burgener, mengaku telah memperingatkan bahwa militer Myanmar kemungkinan besar akan menghadapi tindakan keras dari beberapa negara.

WowKeren - Militer Myanmar menyatakan siap menghadapi sanksi dan isolasi usai melakukan kudeta pada 1 Februari 2021 lalu. Pernyataan pihak militer tersebut disampaikan oleh seorang pejabat tinggi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Utusan khusus PBB untuk Myanmar, Christine Schraner Burgener, mengungkapkan ada 38 orang yang tewas saat militer memadamkan protes pada Rabu (3/3). Burgener mengaku telah memperingatkan bahwa militer Myanmar kemungkinan besar akan menghadapi tindakan keras dari beberapa negara dan isolasi sebagai pembalasan atas kudeta tersebut saat berbicara dengan Wakil Jenderal Senior Myanmar, Soe Win.

"Jawabannya adalah, 'Kami terbiasa dengan sanksi, dan kami (selama ini) bisa selamat'," ungkap Burgener kepada wartawan di New York. "Ketika saya juga memperingatkan mereka akan diisolasi, jawabannya adalah, 'Kita harus belajar berjalan hanya dengan beberapa teman'."

Dewan Keamanan PBB yang beranggotakan 15 negara telah menyuarakan keprihatinan atas keadaan darurat di Myanmar. Namun mereka berhenti mengutuk kudeta tersebut bulan lalu karena ditentang oleh Rusia dan Tiongkok, yang memandang perkembangan tersebut sebagai urusan dalam negeri Myanmar.


"Saya berharap mereka menyadari bahwa ini bukan hanya urusan internal, tapi juga mengenai stabilitas kawasan," ujar Burgener tentang Rusia dan Tiongkok.

Adapun Wakil Jenderal Senior Soe Win mengatakan kepada Burgener bahwa pihak militer ingin kembali menggelar Pemilu setelah satu tahun. Burgener sendiri terakhir berbicara dengan Soe Win pada 15 Februari 2021 lalu dan kini berkomunikasi dengan pihak militer Myanmar secara tertulis.

"Jelas, menurut saya, taktiknya sekarang adalah menyelidiki orang-orang NLD (Partai Liga Demokrasi Nasional Myanmar) untuk memenjarakan mereka," papar Burgener. "Pada akhirnya, NLD akan dilarang dan kemudian mereka mengadakan Pemilihan baru, di mana mereka ingin menang, dan kemudian mereka dapat terus berkuasa."

Burgener juga yakin bahwa pihak militer "terkejut" dengan ramainya protes terhadap kudeta yang mereka lakukan. "Saat ini, kami memiliki anak muda yang hidup dalam kebebasan selama 10 tahun, mereka memiliki media sosial, dan mereka terorganisir dengan baik dan sangat bertekad. Mereka tidak ingin kembali ke dalam kediktatoran dan isolasi," pungkasnya.

(wk/Bert)

You can share this post!

Related Posts