Anak-Anak Muslim Uyghur di Bawah Umur yang Tinggal di Xinjiang Dilarang Ikut Puasa
Unsplash/simon sun
Dunia
Ramadhan 2021

Seorang pria Muslim etnis Uyghur yang tinggal di wilayah Xinjiang, Tiongkok, menmberikan gambaran soal praktik agama di bawah aturan yang ditetapkan oleh Partai Komunis Tiongkok.

WowKeren - Seorang pria Muslim etnis Uyghur yang tinggal di wilayah Xinjiang, Tiongkok, menmberikan gambaran soal praktik agama di bawah aturan yang ditetapkan oleh Partai Komunis Tiongkok. Menurutnya, anak-anak di bawah umur tidak diperbolehkan melakukan aktivitas religius, termasuk berpuasa di bulan Ramadan.

Pria bernama Tursunjan Mamat tersebut mengaku kini tengah berpuasa, namun kedua putrinya yang masih berusia 8 dan 10 tahun tidak ikut puasa. Meski demikian, pria berusia 32 tahun tersebut tidak mengeluh.

"Anak-anak saya tahu siapa Pencipta Suci kami, tapi saya tidak memberi mereka pengetahuan agama yang mendetail," ujar Mamat dikutip dari AP, Kamis (6/5). "Setelah mereka mencapai usia 18 tahun, mereka dapat menerima pendidikan agama sesuai keinginan mereka sendiri."

Masa depan umat Muslim di Xinjiang dinilai tampak suram di bawah beban kebijakan resmi. Penduduk setempat mengatakan bahwa jumlah jamaah terus menurun, dan sejumlah pengamat juga menyatakan bahwa beberapa masjid telah dihancurkan.


Satu dekade yang lalu, Salat Jumat di Masjid Id Kah bisa dihadiri oleh 4 ribu hingga 5 ribu orang. Kini, Salat Jumat di masjid yang terletak di "Jalur Sutera" Kashgar yang bersejarah tersebut hanya dihadiri oleh 800 hingga 900 orang.

Namun demikian, Mamat Juma selaku Imam Masjid Id Kah mengaitkan penurunan jemaah tersebut dengan perubahan alami dalam nilai-nilai, bukan kebijakan pemerintah. Menurutnya, generasi muda kini ingin lebih banyak menghabiskan waktu untuk bekerja ketimbang berdoa.

Beijing sendiri telah membantah tuduhan penghancuran dua pertiga masjid di Xinjiang dan menyangkal keberadaan 300 kamp yang diduga digunakan untuk memaksa Muslim Uyghur meninggalkan bahasa dan agama mereka. Pemerintah Tiongkok bahkan mengajak belasan koresponden asing untuk berkunjung ke Xinjiang selama lima hari. Dalam kesempatan tersebut, para pejabat berulang kali mendesak wartawan untuk menceritakan apa yang mereka lihat, bukan apa yang disebut Tiongkok sebagai "kebohongan kritik politisi dan media Barat".

Pihak Beijing menyatakan bahwa mereka melindungi kebebasan beragama, dan warga negara Tiongkok dapat mempraktikkan keyakinan mereka selama mereka mematuhi hukum dan peraturan. Melansir AP, setiap aktivitas keagamaan justru harus dilakukan sesuai dengan batasan yang terlihat di hampir setiap pemberhentian di Xinjiang.

Seorang Kepala Sekolah Dasar menjelaskan bahwa puasa tidak dipraktikkan di bulan Ramadan karena "pemisahan agama dan pendidikan". Sedangkan pekerja di pabrik benang kapas dilarang salat di tempat kerja, dan bahkan di kamar asrama mereka.

(wk/Bert)

You can share this post!

Related Posts