Osaka Kewalahan Dihantam COVID-19, Olimpiade Tokyo Diharap Tak Lanjut
Unsplash/Roméo A.
Dunia
Kontroversi Olimpiade Tokyo

Para profesional medis yang mengetahui secara langsung perjuangan Osaka melawan pandemi corona pun berharap agar penyelenggaraan Olimpiade Tokyo dihentikan.

WowKeren - Osaka yang merupakan kota terbesar kedua di Jepang kini mulai kewalahan menghadapi gelombang infeksi virus corona (COVID-19). Tempat tidur dan ventilator di rumah sakit mulai menipis, serta kalangan dokter memperingatkan potensi kolapsnya sistem kesehatan.

Osaka yang memiliki populasi 9 juta orang tersebut mengalami pukulan paling parah di gelombang keempat pandemi COVID-19 Jepang. Melansir Reuters, sepertiga dari kematian COVID-19 di Jepang pada bulan Mei berasal dari Osaka.

Hal ini lantas membuat pelaksanaan Olimpiade Tokyo yang akan segera dimulai menuai pro-kontra. Terlebih baru setengah tenaga kesehatan di Jepang menyelesaikan vaksinasi COVID-19.

"Sederhananya, ini adalah kolapsnya sistem medis," tutur Direktur Rumah Sakit Universitas Kindai di Osaka, Yuji Tohda. "Varian Inggris yang sangat menular dan kewaspadaan yang menurun telah menyebabkan ledakan pertumbuhan jumlah pasien."


Goncangan hebat gelombang keempat pandemi COVID-19 di prefektur Osaka dapat dilihat dari ditemukannya 3.849 kasus positif baru dalam seminggu. Angka tersebut menunjukkan lonjakan lebih dari lima kali lipat selama periode yang sama tiga bulan lalu.

Dari total 13.770 pasien COVID-19 di Osaka, hanya 14 persen yang telah dirawat di rumah sakit. Dengan demikian, mayoritas pasien COVID-19 di prefektur tersebut harus mengurus diri mereka sendiri. Sebagai perbandingan, tingkat rawat inap terbaru di Tokyo mencapai 37 persen.

Per Kamis (20/5), 96 persen dari 348 tempat tidur rumah sakit yang disimpan Osaka untuk kasus COVID-19 serius telah digunakan. Para pejabat melaporkan bahwa sejak Maret 2021, sudah ada 17 orang yang meninggal dunia akibat COVID-19 di luar rumah sakit.

Para profesional medis yang mengetahui secara langsung perjuangan Osaka melawan pandemi pun berharap agar penyelenggaraan Olimpiade Tokyo dihentikan. Sebagai informasi, ajang olahraga internasional tersebut dijadwalkan akan berlangsung mulai 23 Juli hingga 8 Agustus 2021 mendatang.

"Olimpiade harus dihentikan, karena kita sudah gagal menghentikan aliran varian baru dari Inggris, dan selanjutnya mungkin masuknya varian India," tutur Kepala Pengobatan Darurat di OMPUH, Akira Takasu. "Di Olimpiade, 70.000 atau 80.000 atlet dan orang-orang akan datang ke negara ini dari seluruh dunia. Ini mungkin menjadi pemicu bencana lain di musim panas."

(wk/zodi)

You can share this post!

Related Posts