COVID-19 'Hajar' Ekonomi Global, Bikin Buruh Anak Melonjak Terbanyak Sejak 2000
Flickr/[email protected]
Dunia
Pandemi Virus Corona

UNICEF dan ILO mencatatkan lonjakan anak-anak yang menjadi buruh, bahkan merupakan yang terburuk sejak tahun 2000. Pandemi COVID-19 pun masih menjadi faktor utamanya.

WowKeren - Wabah COVID-19 bukan hanya menciptakan krisis kesehatan tetapi juga perekonomian. Ekonomi global ikut rontok akibat pandemi ini dan menciptakan sejumlah masalah baru seperti buruh anak.

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melaporkan terjadi kenaikan jumlah buruh anak sampai mencapai 160 juta orang. Angka ini merupakan kenaikan terburuk yang dilaporkan dalam dua dekade terakhir, dengan jutaan buruh baru akibat pandemi COVID-19.

UNICEF dan Organisasi Buruh Internasional (ILO) menemukan 8,4 juta anak-anak dipaksa menjadi buruh selama 4 tahun belakangan. Angka ini diperkirakan bertambah 9 juta lagi sampai akhir 2022 dan masih diakibatkan oleh pandemi COVID-19.

Simulasi ILO bahkan lebih mengerikan lagi. Di mana ada 46 juta anak-anak berisiko dieksploitasi menjadi buruh apabila mereka tak memiliki akses proteksi sosial.


"Estimasi ini adalah alarm. Kita tidak bisa berdiam diri saja sedangkan generasi baru kita dalam risiko," tutur Direktur Jenderal ILO Guy Ryder dalam siaran persnya. "Kita dalam momen kritis dan semua akan bergantung pada bagaimana respons kita. Ini waktunya untuk memperbarui komitmen dan energi untuk menghentikan siklus kemiskinan dan buruh anak."

Yang turut menjadi sorotan adalah pekerjaan-pekerjaan yang para buruh anak ini lakukan pun kelompok usia yang terlibat. Anak-anak usia 5-11 tahun sekarang mendominasi secara global.

Sekitar 70 persen didominasi buruh anak di sektor pertanian, atau sekitar 112 juta orang tersebar di berbagai penjuru dunia. Sedangkan anak-anak usia 5-17 tahun pun ada yang dipekerjakan di sektor yang membahayakan kesehatan mereka.

Tingkat kesejahteraan memang menurun drastis dan makin senjang akibat pandemi COVID-19. Situasi ini pun turut membuat Direktur Eksekutif UNICEF, Henrietta Fore, prihatin.

"Kita sudah kehilangan kekuatan melawan buruh anak dan tahun kemarin perjuangan kita tidak mudah juga," tutur Fore. "Sekarang kita memasuki tahun kedua lockdown global, penutupan sekolah, kerusakan ekonomi, dan penurunan anggaran nasional. Keluarga pun terpaksa mengambil keputusan menyesakkan (dengan mempekerjakan anak mereka)."

(wk/elva)

You can share this post!

Related Posts