Rusia Uji Penggunaan Vaksin Lewat Semprotan Hidung ke Anak-Anak
Unsplash/Jame Gathany/CDC
Dunia
Vaksin COVID-19

Rusia menguji bentuk semprotan hidung dari vaksin COVID-19 yang cocok untuk anak-anak berusia 8-12 tahun dan berencana untuk meluncurkan produknya pada September.

WowKeren - Upaya vaksinasi terus digencarkan oleh masing-masing negara untuk bisa segera pulih dari pandemi COVID-19. Tak hanya orang dewasa, vaksinasi juga dilakukan pada anak-anak di negara tertentu.

Seperti Rusia misalnya. Rusia telah menguji bentuk semprotan hidung dari vaksin COVID-19 yang cocok untuk anak-anak berusia 8-12 tahun. Negara ini juga berencana untuk meluncurkan produk baru pada bulan September.

Hal itu sebagaimana dijelaskan oleh Alexander Gintsburg, ilmuwan yang mengepalai Institut Gamaleya yang mengembangkan Sputnik V pengembangan vaksin Sputnik V pada hari Sabtu (12/6). Menurut kantor berita TASS, Gintsburg mengatakan semprotan untuk anak-anak menggunakan vaksin yang sama "hanya sebagai ganti jarum, dipasang nozel".


Vaksin melalui semprotan hidung ini diharapkan siap didistribusikan pada 15 September mendatang. Kelompok peneliti menguji vaksin pada anak-anak berusia antara delapan dan 12. Dari hasil pengujian itu mereka tidak menemukan efek samping di antara kelompok uji, termasuk tidak ada peningkatan suhu tubuh, kata Gintsburg dalam komentar yang dilaporkan oleh kantor berita TASS.

"Kami menginokulasi (pasien) kecil kami melalui hidung, kami memberikan vaksin yang sama dengan semprotan hidung," kata Gintsburg. Kendati demikian, ia tidak memberikan rincian lebih lanjut tentang penelitian itu misalnya seperti berapa banyak anak yang terlibat.

Selain Rusia, negara lain yang juga sudah mengambil langkah terkait pemberian vaksin pada anak-anak adalah Tiongkok. Tiongkok telah menyetujui penggunaan darurat untuk vaksin COVID-19 Sinovac Biotech pada orang berusia antara tiga dan 17 tahun. Hal tersebut sebagaimana dikemukakan oleh Ketua Yin Weidong kepada TV pemerintah pada Jumat (4/6) malam.

Dibanding orang dewasa, anak-anak di bawah umur cenderung memiliki prioritas yang lebih rendah untuk vaksinasi terhadap virus corona. Sebab orang dewasa dianggap memiliki risiko gejala parah yang lebih tinggi setelah infeksi. Hasil awal dari uji klinis Fase I dan II menunjukkan vaksin dapat memicu respons imun pada peserta berusia tiga hingga 17 tahun.

(wk/zodi)

You can share this post!

Related Posts