Ilmuwan Sebut Global Warming Kemungkinan Sudah Lampaui Titik Kritis
Unsplash/Samuel Ferrara
Dunia

300 ilmuwan yang melakukan ekspedisi terbesar ke Kutub Utara memperingatkan jika pemanasan global mungkin telah melampaui titik kritis yang tidak dapat diubah.

WowKeren - Masalah pemanasan global atau global warming masih menjadi concern hingga kini. Kondisi pemanasan global diyakini sangat mempengaruhi kondisi masa depan bumi di masa mendatang.

Ilmuwan memperingatkan jika pemanasan global mungkin telah melampaui titik kritis yang tidak dapat diubah. Para ilmuwan yang melakukan ekspedisi terbesar ke Arktik mempresentasikan temuan pertama dari misi terbesar dunia ke Kutub Utara.

Misi tersebut melibatkan 300 ilmuwan dari 20 negara. Pemimpin ekspedisi tersebut, Markus Rex, mengatakan pada hari Selasa (15/6) bahwa para peneliti telah menemukan es Kutub Utara mundur lebih cepat daripada sebelumnya. Ia mengatakan jika hilangnya es laut musim panas di benua tersebut menjadi salah satu peringatan serius.

"Hilangnya es laut musim panas di Kutub Utara adalah salah satu ranjau darat pertama di ladang ranjau ini, salah satu titik kritis yang kami awali ketika kita mendorong pemanasan terlalu jauh," katanya saat presentasi di ibu kota Jerman, Berlin. "Dan pada dasarnya orang bisa bertanya apakah kita belum menginjak ranjau ini dan sudah memulai awal ledakan."


Ekspedisi itu dilakukan selama 389 hari melintasi Arktik dengan anggaran 165 juta dolar AS. Dari ekspedisi itu, mereka membawa pulang "bukti kehancuran" dari Samudra Arktik yang sekarat. Dalam beberapa dekade ke depan diperkirakan tidak akan ada lagi es saat musim panas di samudera itu.

Para ilmuwan menemukan bahwa es Samudra Arktik telah mundur "lebih cepat pada musim semi 2020 daripada sejak awal pencatatan". Kondisi permukaan es laut yang lebih kecil menyebabkan lautan menyerap lebih banyak panas di musim panas.

Yang mana ini berarti pembentukan lapisan es di musim gugur lebih lambat dari biasanya. "Hanya evaluasi di tahun-tahun mendatang yang akan memungkinkan kita untuk menentukan apakah kita masih dapat menyelamatkan es laut Arktik," tambah Rex.

Kekhawatiran lain dikemukakan oleh Stefanie Arndt, ilmuwan yang mengkhususkan diri dalam fisika es laut. "Menyakitkan mengetahui bahwa kita mungkin adalah generasi terakhir yang dapat menyaksikan Arktik yang masih memiliki lapisan es laut di musim panas," ujarnya.

(wk/zodi)

You can share this post!

Related Posts