Studi AS Ungkap Vaksin Pfizer Bisa Tangkal COVID-19 Lebih Lama Walau Tak Suntik Booster
Flickr/30478819@N08
Dunia

WHO membuka opsi pentingnya suntik booster atau dosis ketiga vaksin COVID-19 demi meningkatkan antibodi. Namun studi AS menilai hal tersebut tak diperlukan penerima vaksin Pfizer.

WowKeren - Belum lama ini Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan sejumlah pakar kesehatan dunia menyampaikan prediksi perlunya vaksin COVID-19 dosis ketiga alias booster. Harapannya penyuntikan dosis ketiga ini diklaim bisa meningkatkan efek antibodi dari vaksin yang disuntikkan.

Namun suntikan booster ini tampaknya tidak diperlukan untuk vaksin COVID-19 dengan merek Pfizer-BioNTech dan Moderna. Sebab seperti disampaikan pada Senin (28/6) kemarin, peneliti Amerika Serikat mengungkap bahwa kedua jenis vaksin itu bisa memicu reaksi antibodi yang lebih panjang.

Lebih spesifik diterangkan bahwa vaksin dengan bahan mRNA kemungkinan tidak memerlukan suntikan dosis booster, selama virus Corona tidak mengalami evolusi yang jauh melampaui bentuknya saat ini. Bahkan jika penerima vaksin adalah penyintas COVID-19, suntikan booster tetap tidak diperlukan sekalipun virus sudah bertransformasi dengan signifikan.

"Ini adalah pertanda baik soal seberapa kuatnya imunitas kita yang dipicu oleh vaksin," jelas Dr Ali Ellebedy, Ahli Imunologi di Universitas Washington di St Louis, Amerika Serikat, yang memimpin riset tersebut. Jurnal penelitiannya bersama rekan-rekan ilmuwan ini telah diterbitkan di Jurnal Nature.


Studi tersebut memang tidak melibatkan vaksin COVID-19 produksi Johnson & Johnson. Namun Ellebedy menduga durasi antibodi yang dipicu vaksin Johnson & Johnson akan lebih singkat dibandingkan yang berbasis mRNA seperti Pfizer dan Moderna.

Tim Ellebedy menemukan penyintas COVID-19 mampu memproduksi sel kekebalan tubuh yang mampu mengenali virus Corona dan akan "beristirahat" di sumsum tulang selama 8 bulan setelah infeksi. Sel yang disebut sebagai sel B memori ini kemudian akan matang dan semakin kuat selama setidaknya setahun setelah infeksi.

Temuan ini lantas coba dikaitkan dengan efek antibodi yang timbul dari vaksinasi COVID-19. Ellebedy dan rekan mengobservasi 41 penerima dua dosis penuh vaksin Pfizer-BioNTech, dengan 8 di antaranya adalah penyintas COVID-19.

Hasilnya, struktur khusus yang disebut "germinal centre" di nodus limfa masih aktif bahkan pada 15 pekan setelah vaksinasi. Jumlah sel memori yang mengenal virus Corona pun tidak berkurang di periode waktu tersebut.

Hasil ini pun menjadi latar belakang kesimpulan bahwa vaksinasi dengan Pfizer-BioNTech atau bahan berbasis mRNA lain mampu melindungi tubuh dalam jangka waktu lebih lama. Sementara untuk penerima vaksin dengan sistem imun lebih lemah mungkin tetap memerlukan dosis booster, sedangkan penyintas COVID-19 malah mungkin sama sekali tidak memerlukannya.

(wk/elva)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait