Salah seorang mantan perawat berusia 72 tahun Anastasiya Kulchina menolak untuk divaksin. Ia mengatakan bahwa Sputnik V dikembangkan dengan 'sangat cepat'.
- Zodiak Yanuarita
- Rabu, 30 Juni 2021 - 17:27 WIB
WowKeren - Rusia menjadi salah satu yang ada di garis depan ketika sejumlah negara tengah berlomba-lomba untuk menciptakan vaksin COVID-19. Kendati demikian, rupanya di antara warga negaranya sendiri masih ada keraguan terkait vaksin Sputnik V yang berhasil diciptakan.
Salah seorang mantan perawat berusia 72 tahun Anastasiya Kulchina menolak untuk divaksin. Ia mengatakan bahwa Sputnik V dikembangkan dengan "sangat cepat". "Vaksin sedang disempurnakan pada kami. Saya tidak ingin menjadi kelinci percobaan," ujarnya kepada Al Jazeera.
Kulchina tak sendiri. Menurut survei oleh lembaga survei Levada Center yang dilakukan pada bulan April, sebanyak 62 persen orang Rusia tidak ingin divaksinasi, dan 56 persen tidak takut terkena virus. Fenomena ini tentu mengejutkan mengingat Sputnik V adalah vaksin COVID-19 terdaftar pertama di dunia, dan telah dipasok ke negara-negara dari Mongolia hingga Brasil.
Rusia sendiri tampaknya memiliki masalah terkait upaya vaksinasi untuk penduduknya. Hanya 13 persen orang Rusia yang menerima kedua dosis vaksin, dibandingkan dengan lebih dari setengah orang Amerika dan 87 persen orang Islandia. Sementara itu, varian Delta telah membuat rekor baru di negara berpenduduk 143 juta tersebut.
Pada hari Senin, Rusia mencatat 21.650 kasus baru yang mana jumlah ini adalah yang tertinggi sejak Januari. Lebih dari sepertiga di antaranya tercatat di Moskow dengan 611 meninggal dunia, termasuk rekor 124 di Moskow.
Seorang ahli yang berbasis di Rusia dengan Yayasan Jamestown Pavel Luzin menjelaskan kepada Al Jazeera bahwa pada dasarnya penduduk tidak menolak vaksinasi. Mereka hanya tak sepakat dengan kampanye birokrasi yang dilakukan pemerintah.
"Mereka tidak menentang vaksinasi, mereka menentang kampanye birokrasi," kata Luzin. "Dan mereka memprotes kampanye ini tidak secara terbuka, tetapi dengan menyabotasenya."
Sementara itu di sejumlah daerah, pihak berwenang berusaha menarik minat masyarakat untuk datang ke pusat vaksinasi. Upaya itu dilakukan dengan cara memberikan uang tunai, sertifikat hadiah, lotre, dan tiket gratis ke bioskop atau museum.
(wk/zodi)