Junta Militer Myanmar membebaskan dua ribu lebih tahanan kontra kudeta dengan dalih tidak terbukti menjadi provokator dalam aksi massa. Termasuk di antaranya adalah jurnalis.
- Elvariza Opita
- Kamis, 01 Juli 2021 - 14:10 WIB
WowKeren - Kudeta yang dilakukan junta militer Myanmar menimbulkan berbagai kontroversi. Pasalnya junta militer tak segan bertindak represif dengan menahan massa yang menyuarakan kontra atas aksi mereka, bahkan sejak kudeta dilakukan awal Februari 2021 kemarin.
Namun pada Rabu (30/6) kemarin, junta militer Myanmar membebaskan sekitar dua ribu tahanan. Termasuk di antara mereka jurnalis dan pihak-pihak kontra kudeta dengan dalih bukan berperan sebagai provokator.
"Total 2.296 tahanan sudah dibebaskan. Mereka bergabung dalam protes namun bukan sebagai aktor utama. Mereka tidak berpartisipasi dalam aksi kekerasan," ujar Juru Bicara Junta Militer, Zaw Min Tun, kepada situs berita Irrawaddy.
Meski demikian, pembebasan ini tak terlalu mendapat reaksi positif masyarakat. Sebab beberapa aktivis menilai tindakan pembebasan ribuan tahanan tersebut sebagai taktik oleh junta militer untuk mengalihkan perhatian dari tindakan represif yang dilakukan terhadap berbagai protes yang berlangsung.
"Peristiwa hari ini dimaksudkan untuk membuat seolah-olah ada relaksasi dalam penindasan junta," ujar organisasi nirlaba berbasis di Thailand, Asosiasi Bantuan Tahanan Politik, dikutip dari Reuters, Kamis (1/7). "Ini tidak terjadi."
Hal senada juga disampaikan oleh anggota Organisasi HAM Chin, Salai Za Uk Ling. Salai yang berperan sebagai oposisi atas aksi militer menyebut tindakan pelepasan ribuan tahanan itu semata-mata demi menyenangkan internasional dan tidak berarti apa-apa.
Sebab di negara bagian Chin saja misalnya, menurut Salai, masih banyak warga yang ditahan. "Kami akan terus menghadapi masalah serupa sampai mereka berhenti bertindak represif. Orang-orang akan terus merasa tidak aman di rumah mereka sendiri," tegas Salai.
Meski demikian, pembebasan ribuan tahanan ini tetap disambut meriah oleh kerabat dan keluarga. Seperti yang disampaikan Kepala Editor Myanmar Now, Swe Win, yang menyambut bahagia kebebasan salah satu rekan reporternya yang sudah 124 hari ditahan junta militer.
"Selayaknya tahanan politik lain, dia ditahan dengan tidak adil. Dia sudah mengalami banyak penderitaan di penjara. Tetapi sekarang, saya senang melihatnya kembali dengan semangat membara," terang Swe lewat pesan tertulisnya.
(wk/elva)