Kasus COVID-19 di Rusia mengalami lonjakan yang cukup signifikan. Hal ini membuat Moskow mensosialisasikan booster vaksin COVID-19 agar bisa lebih melindungi masyarakat dari penyebaran varian Delta khususnya.
- Tiara Yola Ade Ramadhanti
- Kamis, 01 Juli 2021 - 20:45 WIB
WowKeren - Virus Corona (COVID-19) hingga saat ini masih menjadi wabah global. Masing-masing negara di dunia saat ini terus berupaya untuk mengatasi dan menangani pandemi itu.
Salah satu negara yang tengah berjuang melawan COVID-19 adalah Moskow. Klinik kesehatan di Moskow, akan memulai sosialisasi terkait dengan suntikan booster atau penguat vaksin COVID-19.
Sosialisasi itu disampaikan oleh Wali Kota Moskow pada Kamis (1/7) hari ini. Hal ini dilakukan di saat Rusia tengah mengalami lonjakan COVID-19, dan berjuang melawan kasus yang diduga berasal dari varian Delta.
Sebelumnya, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Moskow mengeluarkan peraturan baru untuk program inokulasi nasional pada Rabu (30/6). Kemenkes merekomendasikan klinik mulai memberikan dosis booster kepada orang yang telah divaksinasi enam bulan lalu atau lebih.
Kemenkes mengatakan bahwa sosialisasi sangat penting dilakukan, mengingat saat ini kasus COVID-19 di Rusia meningkat lebih tajam dan tingkat vaksinasinya masih tetap rendah. Selain itu, Kemenkes juga akan melakukan vaksinasi darurat dan merekomendasikan booster untuk orang yang sudah divaksinasi lebih dari enam bulan sampai setidaknya mencapai 60 persen dari populasi orang yang telah divaksin.
Sementara itu, Wali Kota Moskow Sergei Sobyanin mengatakan bahwa vaksinasi ulang tersedia dengan salah satu dari empat vaksin yang terdaftar di Rusia. Meski demikian, vaksin Sputnik V masih menjadi unggulan dan satu komponen dengan Sputnik-Light.
Terkait dengan suntikan Sputnik V, para ilmuwan sebelumnya mengatakan bahwa perlindungan yang dihasilkan dari vaksin tersebut berlangsung lebih lama dari enam bulan. Meski demikian, ilmuwan juga telah merekomendasikan dosis booster untuk menjaga jumlah antibodi pelindung dalam tubuh pada tingkat tinggi.
"Kita perlu mengawasi strainnya, menjaga tingkat antibodi tetap tinggi melalui vaksinasi ulang yang lebih sering," terang Dr Alexander Gintsburg selaku Direktur Institut Gamaleya yang mengembangkan vaksin tersebut. "Ini karena sel-sel memori terlambat bekerja, mereka mulai membangun tingkat antibodi yang tepat sekitar hari ketiga atau keempat."
(wk/tiar)