Perusahaan Jerman CureVac saat ini tengah mengembangkan vaksin COVID-19. Vaksin tersebut baru mencapai keampuhan 48 persen saat uji klinis, meski begitu CureVac tetap optimis.
- Tiara Yola Ade Ramadhanti
- Kamis, 01 Juli 2021 - 22:54 WIB
WowKeren - Vaksin COVID-19 saat ini menjadi suatu kebutuhan utama yang tengah dicari oleh setiap negara dalam menghadapi pandemi. Bahkan banyak negara yang tengah mengembangkan vaksin buatan negaranya sendiri agar bisa mencukupi kebutuhannya.
Seperti yang dilakukan oleh perusahaan Jerman CureVac saat ini tengah mengembangkan vaksin COVID-19. Pada Rabu (30/6), CureVac mengumumkan bahwa vaksin COVID-19 yang dikembangkannya menunjukkan keampuhan sebesar 48 persen dalam uji klinis.
Meski demikian, pihaknya masih akan terus mengembangkan atas vaksin COVID-19 tersebut. Dalam sebuah pernyataan, dalam mengembangkan vaksin COVID-19 itu, CureVac menggunakan teknologi messenger RNA.
48 Persen efektivitasnya itu dalam mencegah orang menjadi sakit dengan setidaknya satu gejala. Persentase tersebut bisa dibilang masih jauh untuk bisa digunakan sebagai vaksin COVID-19 seperti Moderna dan Pfizer-BioNTech yang keampuhannya mencapai 95 persen dalam uji klinis.
Lebih lanjut, CureVac mencatat bahwa vaksin yang tengah dikembangkan itu menunjukkan efektivitas yang lebih besar terhadap subjek yang berusia 18 hingga 60 tahun dengan tingkat keampuhan mencapai 53 persen. Adapun keampuhan itu dalam menghadapi penyakit dengan tingkat keparahan apapun di semua 15 jenis virus yang telah diidentifikasi.
Selain itu, juga menunjukkan perlindungan sebesar 77 persen terhadap penyakit sedang hingga berat. Kemudian menunjukkan perlindungan 100 persen terhadap rawat inap atau kematian.
CureVac menjelaskan bahwa pengembangan vaksin COVID-19 ini berbeda dengan vaksin sebelumnya, lantaran terfokus pada uji coba vaksin terhadap varian virus. Dalam uji coba yang dilakukan terhadap 40 ribu orang partisipan, 228 di antaranya tertular COVID-19.
Namun 3 persen di antara 228 yang tertular COVID-19 itu berasal dari jenis asli virus, bukan varian baru atau mutasi. "Dalam konteks lingkungan varian COVID-19 yang semakin beragam saat ini, dan dengan prevalensi residu yang sangat sedikit dari strain asli, kami yakin bahwa studi HERALD menawarkan data yang relevan secara klinis mengenai efek varian yang muncul pada kemanjuran vaksin," bunyi pernyataan CureVac.
(wk/tiar)