Bukan COVID-19, Olimpiade Tokyo Terancam Batal Meski Baru Dibuka Imbas Fenomena Ini
UPI/Richard Ellis
Dunia
Olimpiade Tokyo

Olimpiade Tokyo resmi dibuka pada Jumat (23/7) malam, diiringi pro-kontra karena pandemi COVID-19. Namun bukan cuma itu, rupanya ada ancaman lain yang membayangi keberlangsungan turnamen.

WowKeren - Olimpiade Tokyo akhirnya resmi dibuka pada Jumat (23/7) malam waktu Indonesia. Olimpiade ini sendiri harusnya diselenggarakan sejak musim panas tahun 2020 dan tertunda setahun karena pandemi COVID-19 yang bahkan makin mengganas beberapa waktu belakangan.

Namun ancaman terhadap lancarnya keberjalanan Olimpiade Tokyo tampaknya belum berakhir. Selain wabah infeksi virus Corona, turnamen olahraga internasional itu juga dibayangi gangguan dari fenomena alam berupa Badai Tropis Nepartak di Laut Filipina.

Melansir UPI, pusaran badai itu terbentuk pada Jumat pagi di bagian utara-timur laut Guam dan Pulau Mariana. Hanya dalam beberapa jam, mata badai menguat dan menjadi badai tropis pada Jumat larut waktu setempat.

Yang menjadi sorotan, badai ini ternyata bergerak selama akhir pekan ke bagian utara lalu akan berbelok tajam ke arah barat menuju daratan utama Jepang. Per Jumat malam, Badai Tropis Nepartak sudah mencapai kecepatan 40 mph dan perlahan tampak bergerak utara sesuai simulasi para ahli.


"Memang masih terlalu awal untuk sangat meyakini arah sebenarnya dan intensitas badai ini bergerak," kata meteorologis AccuWeather, Jake Sojda, dilansir pada Sabtu (24/7). "Namun ada indikasi awal badai bisa mengancam Tokyo pada Senin atau Selasa pekan depan waktu setempat."

AccuWeather mengungkap, fenomena yang terbentuk kemungkinan akan tetap setara dengan kekuatan badai tropis pada umumnya ketika mendarat di sepanjang pantai timur Jepang. Meski geseran angin bisa membatasi perkembangan badai, kekuatan sesungguhnya dari topan yang terbentuk ketika tiba di daratan tidak bisa diabaikan.

"Dampak terbesar terhadap permainan adalah kedatangan badai yang langsung menuju Tokyo," terang Sojda. "Di mana mayoritas venue dan turnamen diselenggarakan."

"Meskipun badai kemungkinan bergerak ke bagian utara atau selatan Tokyo, tetap saja ada venue yang bisa terdampak," sambung Sojda. "Turnamen di luar ruangan berada dalam risiko yang sangat besar, di mana hujan deras dan angin kencang dapat memaksa penundaan turnamen."

Yang lebih berbahaya lagi adalah olahraga air, yang bahkan sudah terancam dalam 1-2 hari sebelum kedatangan mata badai. Sementara untuk turnamen yang digelar di dalam ruangan, tingkat risiko ditentukan dari seberapa besar intensitas sistem badai.

(wk/elva)

You can share this post!

Related Posts