Ekonomi Korea Utara Alami Kontraksi Terdalam Sejak 23 Tahun Terakhir Imbas Tutup Perbatasan
pixabay.com/David_Peterson
Dunia
Pandemi Virus Corona

Bank of Korea mengatakan bahwa pertumbuhan negatif dalam produk domestik bruto Korea Utara dapat dikaitkan dengan keputusan Pyongyang untuk menutup perbatasannya tahun lalu.

WowKeren - Ekonomi Korea Utara dilaporkan mengalami kontraksi terdalam. Negara yang dipimpin oleh Kim Jong Un itu mengalami penurunan sebesar 4,5 persen pada tahun 2020, terbesar dalam 23 tahun, sebagaimana dilaporkan bank sentral Korea Selatan.

Mereka menilai bahwa penurunan ekonomi ini erat kaitannya dengan langkah Korea Utara untuk menutup perbatasannya dengan negara-negara luar. Pada Jumat (30/7), Bank of Korea mengatakan bahwa pertumbuhan negatif dalam produk domestik bruto Korea Utara dapat dikaitkan dengan keputusan Pyongyang untuk menutup perbatasannya tahun lalu di tengah pandemi global virus corona dan sanksi internasional, sebagaimana dilaporkan Newssis.

Korea Utara diperkirakan telah mengalami penurunan terbesar dalam kegiatan ekonomi dan output pada tahun 1997, selama Great Famine atau Wabah Kelaparan Besar. Pada tahun itu, ekonomi Korea Utara menyusut hingga 6,5 persen. Hal ini disebabkan karena ratusan ribu, dan mungkin jutaan orang, meninggal di tengah kekurangan pangan.


Ekonomi rezim menunjukkan tanda-tanda pertumbuhan negatif sebelum pandemi, kata Bank of Korea. Tingkat pertumbuhan ekonomi Korea Utara adalah -0,5 persen pada tahun 2010, dan kemudian tumbuh sekitar 1 persen setiap tahun selama empat tahun mulai tahun 2011.

Lalu pada tahun 2015 mengalami penyusutan sebesar 1,1 persen namun kemudian berhasil membukukan kenaikan 3,9 persen pada 2016. Lalu dua tahun berikutnya berturut-turut mengalami penurunan sebelum akhirnya mencatat tingkat pertumbuhan positif 0,4 persen pada 2019.

Choi Jung-tae, kepala Tim Statistik Pendapatan Nasional dari Meja Statistik Ekonomi Bank, mengatakan ekonomi Korea Utara mengalami kontraksi pada 2017 dan 2018 karena "sanksi internasional yang kuat," sebagaimana dilaporkan Kyunghyang Shinmun. Choi juga mengatakan bahwa COVID-19, banjir, dan angin topan telah berdampak pada pertumbuhan ekonomi Korea Utara.

Korea Utara saat ini tengah mengalami masalah kekeringan. Rodong Sinmun meminta warga bersedia "menuangkan air kehidupan ke dalam koperasi pertanian sosialis, bahkan jika itu berarti mereka sendiri yang menjadi pompa air atau kantong air."

(wk/zodi)

You can share this post!

Related Posts