Sebagai informasi, arus laut Atlantic Meridional Overturning Circulation (AMOC) adalah bagian dari sistem besar arus laut yang dikenal sebagai Arus Teluk dan mengangkut air hangat dari daerah tropis ke arah utara ke Atlantik Utara.
- Bertilia Puteri
- Jumat, 06 Agustus 2021 - 16:27 WIB
WowKeren - Studi ilmiah baru yang diterbitkan pada Kamis (5/8) menemukan bahwa sistem arus laut Samudra Atlantik kemungkinan melemah karena perubahan iklim. Hal ini bisa membawa konsekuensi parah bagi cuaca dunia, termasuk "cuaca dingin ekstrem" di Eropa dan sebagian Amerika Utara hingga naiknya permukaan laut di beberapa bagian Amerika Serikat (AS).
Sebagai informasi, arus laut Atlantic Meridional Overturning Circulation (AMOC) adalah bagian dari sistem besar arus laut yang dikenal sebagai Arus Teluk. Arus tersebut mengangkut air hangat dari daerah tropis ke arah utara ke Atlantik Utara.
Penelitian tersebut menemukan bahwa arus AMOC "kehilangan stabilitas yang hampir lengkap selama satu abad terakhir". Arus tersebut telah berada di titik paling lambat dalam setidaknya 1.600 tahun, tetapi analisis baru menunjukkan bahwa AMOC kemungkinan mendekati penutupan.
"Hilangnya stabilitas dinamis akan menyiratkan bahwa AMOC telah mendekati ambang kritisnya, dimana di luar itu transisi substansial dan dalam praktiknya kemungkinan tidak dapat diubah ke mode lemah dapat terjadi," tutur penulis studi tersebut, Niklas Boers dari Institut Potsdam untuk Penelitian Dampak Iklim.
Menurut penelitian tersebut, potensi berhentinya arus AMOC dapat membawa konsekuensi parah bagi sistem cuaca dunia. Apabila arus AMOC berhenti, maka pendinginan di belahan Bumi Utara dapat meningkat dan berkontribusi pada naiknya permukaan laut di Atlantik.
Selain itu, curah hujan di Eropa dan Amerika Utara juga dapat mengalami penurunan. Hal tersebut juga berpotensi menimbulkan pergeseran musim hujan di Amerika Selatan dan Afrika.
Meski demikian, masih belum bisa dipastikan kapan arus tersebut akan berhenti karena kompleksitas sistem AMOC dan juga ketidakpastian atas tingkat pemanasan global di masa depan. Hal tersebut bisa terjadi dalam satu atau dua dekade, atau bahkan beberapa abad ke depan. Namun dampak besarnya yang bisa dibawa ke dunia menunjukkan bahwa hal tersebut tak boleh dibiarkan terjadi.
"Sudah terlihatnya tanda-tanda destabilisasi adalah sesuatu yang tidak saya duga dan saya rasa menakutkan," papar Boers. Menurutnya, masih belum diketahui berapa tingkat CO2 yang dapat memicu runtuhnya sistem AMOC.
"Jadi satu-satunya hal yang harus dilakukan adalah menjaga emisi serendah mungkin. Kemungkinan terjadinya peristiwa berdampak sangat tinggi ini meningkat dengan setiap gram CO2 yang kita masukkan ke atmosfer," pesan Boers.
(wk/Bert)