Kasus COVID-19 Terus Meningkat, Bekas Penjara Thailand Disulap Jadi RS Lapangan
Dunia

Gedung penjara tua yang tidak terpakai akan dijadikan RS lapangan ketiga untuk merawat pasien COVID-19. Diharapkan tempat ini mampu menampung 200 hingga 300 tempat tidur.

WowKeren - Sebuah penjara tua di Thailand telah diubah menjadi rumah sakit lapangan untuk merawat pasien COVID-19. Penjara yang sudah tidak digunakan itu kini telah menjadi rumah sakit lapangan ketiga untuk mengatasi peningkatan jumlah kasus COVID-19 di Phuket.

Hal itu sebagaimana dikemukakan oleh Gubernur Narong Woonciew pada hari ini, Senin (9/8). Narong mengatakan peningkatan itu termasuk penemuan kasus aktif di masyarakat dan orang-orang yang pulang dari luar provinsi untuk perawatan.

Sementara itu, saat ini sudah ada dua rumah sakit lapangan di Phuket untuk menangani pasien COVID-19. Satu di kampus Universitas Prince of Songkla di Phuket, dengan 170 tempat tidur, dan yang lainnya di Universitas Rajabhat Phuket, dengan 300 tempat tidur.

Narong mengatakan meskipun tempat tidur belum terisi penuh, rumah sakit lapangan ketiga akan dibutuhkan untuk peningkatan jumlah pasien. Gedung penjara tua yang tidak terpakai itu terletak di distrik Muang. Diharapkan tempat ini mampu menampung 200 hingga 300 tempat tidur.


Persiapannya diharapkan selesai pada hari Rabu (11/9) pekan ini. Pusat isolasi masyarakat juga sedang didirikan di wilayah Pak Khlok di distrik Thalang untuk menampung pasien COVID-19 dengan gejala ringan.

Sementara itu, pada Sabtu (7/8) juga sempat terjadi demo di Thailand terkait penanganan COVID-19. Demo yang dilakukan oleh kelompok yang disebut Redem (Restart Demokrasi) itu memiliki tiga tuntutan.

Kelompok yang tidak memiliki pemimpin resmi itu mendesak agar Jenderal Prayut Chan-o-cha harus mengundurkan diri tanpa syarat sebagai perdana menteri. Mereka juga menuntut agar anggaran untuk istana dan angkatan bersenjata harus dipotong dan dialokasikan untuk upaya bantuan COVID-19.

Terakhir, vaksin COVID-19 yang dipakai harus dialihkan ke tipe mRNA. Polisi pun ikut turun lantaran aksi menjadi rusuh. "Gas air mata dan peluru karet digunakan untuk mengendalikan massa. Tujuan kami adalah menjaga ketertiban," kata Kolonel Pol Kritsana Pattanacharoen, wakil juru bicara Kantor Polisi Kerajaan Thailand.

(wk/zodi)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait