Peneliti menyebut efek samping pembekuan darah setelah menerima vaksin AstraZeneca sebagai VITT, gejala klinis yang sangat langka namun tingkat kematiannya tinggi.
- Elvariza Opita
- Kamis, 12 Agustus 2021 - 17:13 WIB
WowKeren - Vaksin AstraZeneca yang dikembangkan bersama Oxford diketahui memiliki efikasi yang cukup baik dalam melindungi dari paparan COVID-19. Namun ada efek samping yang begitu menyita perhatian karena sudah cukup banyak "memakan" korban, yakni pembekuan darah.
Peneliti Inggris baru-baru ini memastikan bahwa sindrom pembekuan darah sebagai efek samping penyuntikan vaksin AstraZeneca adalah kondisi yang sangat langka. Biasanya ini terjadi pada 1 dari 50 ribu penerima dosis pertama vaksin AstraZeneca di bawah 50 tahun.
Sayangnya, meski sangat langka, tingkat kematian akibat efek samping ini begitu tinggi, bahkan kalau dialami oleh mereka yang masih muda dan sehat. "Namun sangat penting untuk ditekankan bahwa gejala klinis ini sangat langka terjadi," kata Dr Sue Pavord, seorang konsultan hematologis dari NHS Foundation Trust Rumah Sakit Universitas Oxford sekaligus pimpinan penulis jurnal yang diterbitkan di New England Journal of Medicine.
"Namun kalau sapai berkembang jadi pembekuan darah, dampaknya bisa sangat mencemaskan," sambung Pavord. "Ini bisa dialami oleh mereka yang masih muda dan sehat, namun tingkat kematiannya tinggi. Akan lebih berbahaya lagi apabila pasien memiliki kadar trombosit yang rendah dan mengalami perdarahan di otak."
Hal senada juga disampaikan Guru Besar bidang Trombosis dan Haemostasis di King's College London, Beverley Hunt. "Ini bisa dialami siapa saja," ujar Hunt, meski kembali menekankan bahwa tingkat kejadiannya sangat langka.
Setengah dari kasus pembekuan darah akibat vaksin AstraZeneca pun ditemukan tidak memiliki penyakit penyerta. Sindrom yang dinamai sebagai vaccine-induced immune thrombocytopenia and thrombosis (VITT) ini membunuh 23 persen dari total mereka yang terinfeksi, dan tingkat kematiannya naik sampai 73 persen bila pasien memiliki kadar trombosit yang rendah.
Namun sejauh ini VITT baru bisa dikaitkan secara ilmiah dengan penyuntikan vaksin AstraZeneca, walau beberapa penerima vaksin Pfizer-BioNTech juga ada yang mengalami kejadian serupa. "Patut dipahami, vaksin Pfizer sejauh ini belum memenuhi definisi sebagai kasus terkonfirmasi atau probable," ujar Konsultan Haematologis di Glasgow Royal Infirmary, Dr Catherine Bagot.
Atau dengan kata lain, meski beberapa penerima Pfizer dilaporkan juga mengalami pembekuan darah serupa, masih belum bisa dipastikan ini adalah dampak penyuntikan vaksin. Namun data ini, ditegaskan para peneliti, bukan berarti menjadi larangan individu di bawah 60 tahun untuk menerima suntikan vaksin AstraZeneca.
Namun sejauh ini sebaiknya vaksin AstraZeneca diberikan kepada mereka yang sudah berusia di atas 60 tahun. "Yang lebih krusial adalah gambaran besarnya, bahwa risiko COVID lebih besar terutama untuk mereka para lansia," pungkas Pavord.
(wk/elva)