Penelitian tersebut melibatkan 672 anak-anak dari negara bagian Rhode Island, Amerika Serikat. Peneliti menjelaskan beberapa tahun pertama seorang anak sangat penting untuk perkembangan kognitif mereka.
- Bertilia Puteri
- Jumat, 13 Agustus 2021 - 15:41 WIB
WowKeren - Studi di Amerika Serikat (AS) menunjukkan bahwa anak yang lahir di masa pandemi COVID-19 memiliki kinerja verbal, motorik, dan kognitif yang lebih rendah dibanding anak yang lahir sebelum pandemi. Penelitian tersebut melibatkan 672 anak-anak dari negara bagian Rhode Island, AS.
188 anak-anak di antaranya lahir setelah Juli 2020, 308 anak di antaranya lahir sebelum Januari 2019, dan 176 sisanya lahir antara Januari 2019 hingga Maret 2020. Anak-anak yang termasuk dalam penelitian ini tidak ada yang lahir secara prematur, tidak memiliki cacat perkembangan, dan sebagian besar berkulit putih.
Sean Deoni yang merupakan seorang profesor pediatri di Brown University sekaligus penulis utama studi tersebut menjelaskan bahwa dengan terbatasnya stimulasi di rumah dan interaksi yang lebih sedikit dengan dunia luar, anak-anak yang lahir di masa pandemi tampaknya mendapat nilai yang sangat rendah pada tes yang dirancang untuk menilai perkembangan kognitif. Diketahui, beberapa tahun pertama seorang anak sangat penting untuk perkembangan kognitif mereka.
Menurut analisis studi tersebut, skor IQ rata-rata pada tes standar untuk anak-anak berusia antara 3 bulan dan 3 tahun dalam dekade sebelum pandemi berkisar sekitar 100. Namun angka tersebut turun menjadi 78 di kalangan anak-anak yang lahir selama pandemi.
"Anda biasanya tidak melihat hal-hal seperti itu di luar gangguan kognitif utama," ungkap Deoni melansir The Guardian pada Jumat (13/8).
Para peneliti juga menemukan bahwa anak dari latar belakang sosial ekonomi yang lebih rendah memiliki hasil tes yang lebih buruk. Deoni menilai alasan terbesar di balik penurunan skor IQ tersebut adalah kurangnya stimulasi dan interaksi di rumah.
"Orangtua stres dan lelah … bahwa interaksi yang biasanya didapat anak telah menurun secara substansial," kata Deoni.
Deoni menambahkan bahwa karena data studi tersebut berasal dari negara bagian AS yang relatif makmur dengan dukungan sosial dan tunjangan pengangguran berlimpah, maka dikhawatirkan keadaan bisa lebih buruk di bagian AS atau negara lain yang lebih miskin. Meski demikian, masih belum jelas apakah skor kognitif yang lebih rendah ini akan memiliki dampak jangka panjang.
(wk/Bert)