NATO Salahkan Presiden Afghanistan yang Kabur Melarikan Diri Saat Negara Kacau
pixabay.com/Ilustrasi/ArmyAmber
Dunia

Sebagaimana diketahui, Presiden Afghanistan Ashraf Ghani kabur meninggalkan negara itu pada Minggu (15/8) ketika kelompok Taliban semakin mendekat ke ibu kota.

WowKeren - Sekretaris Jenderal Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) Jens Stoltenberg pada Selasa (17/8) meminta Taliban untuk memfasilitasi keberangkatan mereka yang ingin meninggalkan Afghanistan. Organisasi tersebut juga menambahkan bahwa dunia akan mengawasi dan harus terus mendukung Afghanistan agar "stabil dan damai".

Pernyataan itu ia sampaikan saat konferensi pers yang dilakukan dua hari setelah Taliban berhasil menguasai ibu kota Kabul. NATO menyalahkan kepemimpinan Afghanistan atas runtuhnya pasukan pemerintah dan hilangnya ibukota. Diketahui, Presiden Afghanistan Ashraf Ghani kabur meninggalkan negara itu pada hari Minggu (15/8) ketika kelompok Taliban semakin mendekat ke ibu kota.

Dengan kata lain, pemerintah Afghanistan gagal menghalau kekuatan pasukan Taliban di negara itu. Tak hanya itu, pemerintah juga dianggap gagal dalam mencapai solusi damai yang diharapkan oleh rakyat.

"Pada akhirnya, kepemimpinan politik Afghanistan gagal untuk melawan Taliban dan mencapai solusi damai yang sangat diinginkan warga Afghanistan," kata Stoltenberg. "Kegagalan kepemimpinan Afghanistan ini menyebabkan tragedi yang kita saksikan hari ini."


Dia mengatakan NATO telah menangguhkan semua dukungan kepada pemerintah Afghanistan. Konflik antara pejuang Taliban dan pasukan pemerintah Afghanistan meningkat setelah pasukan asing pimpinan AS memulai tahap akhir penarikan mereka dari negara itu pada Mei.

Kendati demikian, Presiden AS Joe Biden menegaskan bahwa menarik pasukan dari sana justru merupakan keputusan yang tepat. Ketika Taliban menguasai Kabul, AS dan beberapa negara lain mengupayakan evakuasi untuk diplomat mereka dan warga negara lainnya.

"NATO telah bekerja sepanjang waktu untuk mempertahankan operasi di Bandara Internasional Kabul," kata Stoltenberg. "Sekitar 800 personel sipil NATO tetap ada untuk peran utama dalam keadaan yang sangat menantang, termasuk kontrol lalu lintas udara, bahan bakar dan komunikasi."

Lebih jauh, Stoltenberg juga mendesak Taliban untuk mencegah agar Afghanistan tidak kembali menjadi sarang terorisme. "Mereka yang sekarang mengambil alih kekuasaan memiliki tanggung jawab untuk memastikan bahwa teroris internasional tidak mendapatkan kembali pijakannya," paparnya.

(wk/zodi)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait