Saat ini, Ashraf Ghani berada di Uni Emirat Arab. Berbicara dari sana lewat video, ia mengatakan bahwa dia telah meninggalkan Kabul untuk mencegah terjadinya pertumpahan darah.
- Zodiak Yanuarita
- Kamis, 19 Agustus 2021 - 08:04 WIB
WowKeren - Presiden Afghanistan Ashraf Ghani masih menjadi sorotan di tengah kekacauan negaranya yang kini telah dikuasai Taliban. Bagaimana tidak, sang pemimpin negara yang seharusnya membela rakyatnya justru disebut-sebut kabur meninggalkan mereka di tengah kekacauan.
Saat ini, Ghani tengah berada di Uni Emirat Arab. Berbicara dari sana lewat video, ia mengatakan bahwa dia telah meninggalkan Kabul untuk mencegah terjadinya pertumpahan darah. Ia lebih jauh mengatakan bahwa tak ingin jika Afghanistan ikut berubah seperti Suriah maupun Yaman.
"Jika saya tetap tinggal, saya akan menyaksikan pertumpahan darah di Kabul," kata Ghani dalam video yang disiarkan di media sosial pada Rabu (18/8). "Kabul tidak boleh diubah menjadi Yaman atau Suriah lain karena perebutan kekuasaan, jadi saya terpaksa pergi."
Tak hanya itu, dalam kesempatan tersebut ia juga berbicara mengenai tudingan yang menyebutnya turut serta membawa uang jutaan dolar saat meninggalkan istana kepresidenan. Ia menegaskan hanya pergi dengan membawa pakaian.
"Saya pergi hanya dengan rompi dan beberapa pakaian," katanya melanjutkan. "Pembunuhan karakter terhadap saya telah berlangsung, mengatakan bahwa saya telah membawa uang."
Sebelumnya, keberadaan Ghani belum dapat diketahui sehingga spekulasi pun muncul. Ada yang menyebutnya kabur ke Tajikistan, Uzbekistan, hingga Oman. Yang jelas, tuduhan ia pergi dengan membawa uang tidaklah benar. "Tuduhan itu adalah kebohongan yang tidak berdasar. Anda bahkan dapat bertanya kepada petugas bea cukai," tegasnya.
Sebelumnya, Duta Besar Afghanistan untuk Tajikistan Mohammad Zahir Aghbar menuduh Ghani telah mencuri 169 juta dolar uang negara. Ia meminta agar polisi internasional segera bergerak untuk menangkapnya.
Tuduhan ini pun dengan segera menjadi viral di media sosial, sebagaimana disampaikan oleh James Bays dari Al Jazeera yang melaporkan dari Perserikatan Bangsa-Bangsa. Tuduhan itu bergema di antara anggota senior mantan kabinetnya dan orang-orang yang dekat dengannya termasuk menteri pertahanannya Bismillah Khan.
"Bismillah Khan ada di Twitter," kata Bays. "Dia berkata, 'Mereka yang memperdagangkan atau menjual tanah air mereka harus dihukum dan ditangkap'."
(wk/zodi)