Juru bicara kementerian luar negeri Tiongkok Hua Chunying mengatakan bahwa perang Afghanistan menunjukkan jika AS tidak boleh mencampuri urusan dalam negeri negara lain.
- Zodiak Yanuarita
- Jumat, 20 Agustus 2021 - 10:02 WIB
WowKeren - Langkah Amerika Serikat untuk menarik diri dari Afghanistan mengakibatkan kelompok militan Taliban menguasai semua kota besar, termasuk ibu kota Kabul, dalam hitungan hari. Keputusan AS untuk pergi tanpa menerapkan rencana darurat yang memungkinkan evakuasi yang aman telah dikritik sebagai kegagalan.
Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini, Tiongkok pun mengomentari apa yang mereka lihat sebagai kurangnya kredibilitas Amerika terhadap sekutunya, seperti Ukraina, Jepang, dan Korea Selatan. Juru bicara kementerian luar negeri Tiongkok Hua Chunying, mengatakan pada Selasa (17/8), perang Afghanistan menunjukkan bahwa AS tidak boleh mencampuri urusan dalam negeri negara lain.
Global Times semakin menambah retorika Beijing dengan mengatakan bahwa situasi di Afghanistan telah "mengkhawatirkan beberapa orang di pulau Taiwan dan membunyikan bel peringatan bagi para separatis di sana, karena itu bukan yang pertama kalinya AS meninggalkan sekutunya dan apa yang disebut aliansi".
"Apakah ini semacam pertanda nasib masa depan Taiwan?" sebut GT. "Ini telah memberikan pukulan berat bagi kredibilitas dan keandalan AS."
Beijing juga meningkatkan latihan militernya di sekitar Taiwan, melakukan latihan penyerangan di dekat pulau itu pada 17 Agustus, yang mengirim sinyal ke AS dan Taiwan. Selain memperingatkan Taiwan, tujuan Beijing adalah menggunakan Afghanistan sebagai "alat" untuk lebih memperkuat "narasi penurunan AS" untuk "mendapatkan kepercayaan" di Tiongkok, terutama pada saat lingkungan regional menjadi "kurang menguntungkan bagi Kepentingan Tiongkok".
Presiden Taiwan pun ikut menanggapi. Tsai Ing-wen mengungkapkan pentingnya tidak bergantung pada kekuatan eksternal. "Satu-satunya pilihan Taiwan adalah membuat dirinya lebih kuat, lebih bersatu, lebih bertekad untuk mempertahankan diri," katanya.
Perdana Menteri Taiwan Su Tseng-chang mengatakan Taiwan tidak akan runtuh seperti Afghanistan jika terjadi serangan, sebagaimana dilaporkan Reuters. Dia lebih lanjut menolak gagasan bahwa pertahanan Taiwan sangat bergantung pada AS, dengan mengatakan, "Apa yang terjadi di Afghanistan menunjukkan bahwa jika suatu negara berada dalam kekacauan internal, tidak ada bantuan dari luar yang akan membuat perbedaan.
(wk/zodi)