10 Hingga 20 Persen Pasien di Thailand Disebut Alami Gejala 'Long Covid'
AFP/Alain Jocard
Dunia
Pandemi Virus Corona

Menurut Dr Piamlap Sangsayan selaku Kepala Kedokteran Paru dari DMS Central Chest Institute of Thailand, frekuensi gejala 'Long Covid' bisa meningkat tergantung beberapa faktor seperti usia.

WowKeren - Departemen Layanan Medis mengungkapkan 10-20 persen pasien COVID-19 di Thailand menderita efek berkepanjangan yang biasa disebut dengan sindrom "Long Covid". Sindrom tersebut dapat bertahan selama berminggu-minggu dan bahkan berbulan-bulan pasca pasien dinyatakan pulih dari virus.

Menurut Dr Piamlap Sangsayan selaku Kepala Kedokteran Paru dari DMS 'Central Chest Institute of Thailand, frekuensi gejala "Long Covid" bisa meningkat tergantung beberapa faktor. Di antaranya faktor usia, obesitas, dan penggunaan steroid harian.

Rangkaian gejala "Long Covid" ini cukup beragam. Meliputi kelelahan, nyeri otot, sakit kepala, depresi, diare, ruam, perubahan siklus haid, palpitasi jantung, hingga rasa pusing kala berdiri.

Dokter mengatakan gejala ini dapat bertahan selama beberapa saat setelah perawatan. Dr Piamlap mengungkapkan bahwa 10-20 persen pasien Thailand telah mengalami beberapa gejala tersebut pasca sembuh dari COVID-19. Kondisi itu juga disebut mempengaruhi sekitar 40 persen hingga 50 persen penderita di negara lain.


Meski angka Thailand lebih rendah dibanding negara lain, Dr Piamlap memperingatkan hal itu kemungkinan disebabkan oleh pasien yang tidak melaporkan gejala kepada pejabat kesehatan setelah mereka pulih. Adapun pengobatan untuk sindrom "Long Covid" ini disesuaikan untuk memenuhi gejalanya.

Melansir Bangkok Post, pasien yang telah pulih dari COVID-19 dapat memasuki program rehabilitasi. Nantinya, pasien perlahan akan pulih dari sindrom "Long Covid" setelah sekitar satu bulan. Untuk kasus yang parah, pemulihan penuh bisa memakan waktu hingga setengah tahun.

Menurut Dr Piamlap, orang yang telah menerima vaksinasi COVID-19 cenderung tak akan mengalami gejala "Long Covid". Pasalnya, vaksin dinilai bisa membantu melindungi penerima dari sindrom tersebut.

Dalam berita lain, Thailand dilaporkan berencana membuka Bangkok untuk seluruh pelancong yang sudah divaksinasi COVID-19 penuh mulai 1 Oktober 2021 mendatang. Selain itu, provinsi Chiang Mai, Chon Buri, Phetchaburi, dan Prachuap Khiri Khan juga turut dibuka bersamaan dengan Bangkok.

Para wisatawan tidak perlu menjalani karantina hotel selama 14 hari. Sebagai gantinya, langkah-langkah keamanan serupa dengan skema "sandbox" di Phuket akan diterapkan.

(wk/Bert)

You can share this post!

Related Posts