Karhutla Australia Picu Ledakan Populasi Alga yang Justru Bermanfaat Serap Karbon
pixabay.com/Ilustrasi/analogicus
Dunia

Asap kebakaran hutan memang berdampak negatif, namun siapa sangka jika hal itu bisa menimbulkan dampak lain yang lebih menguntungkan bagi makhluk hidup lain?

WowKeren - Kebakaran semak yang terjadi di Australia selama tahun 2019 hingga 2020 rupanya memberikan dampak lain terkait fenomena alam. Karhutla itu memicu mekarnya alga secara besar-besaran beberapa ribu mil jauhnya di Samudra Selatan.

Hal itu sebagaimana dilaporkan pada studi baru yang diterbitkan di jurnal Nature pada Rabu (15/9). Kebakaran hutan yang terjadi di seluruh wilayah Australia mulai November 2019 hingga Januari 2020 telah menghanguskan jutaan hektar lahan semak dan hutan.

Kebakaran yang memecahkan rekor itu menghasilkan gumpalan asap hitam tebal yang memicu peringatan asap dan serangan asma di seluruh New South Wales. Asap kebakaran hutan memang berdampak negatif bagi kesehatan manusia. Tak hanya mengganggu pernapasan namun juga bisa meningkatkan risiko stroke dan penyakit jantung.


Namun, siapa sangka jika hal itu bisa menimbulkan dampak lain yang lebih menguntungkan? Asap yang mengepul rupanya bisa membawa nutrisi yang memberi kehidupan. Menurut penelitian yang dilakukan, zat besi diangkut ribuan mil jauhnya oleh gumpalan asap besar yang tertiup angin memicu mekarnya alga di Samudra Selatan.

Para peneliti menemukan bahwa tidak lama setelah gumpalan asap memberi nutrisi sel alga dengan aerosol besi, pertumbuhan alga mampu menyedot sejumlah besar karbon dari atmosfer. Penulis utama Weiyi Tang, seorang rekan postdoctoral di geosains di Universitas Princeton mengatakan jika fenomena ini adalah temuan baru yang cukup mengejutkan.

"Kebakaran ini mewakili dampak perubahan iklim yang tak terduga," ujarnya. "Dan sebelumnya tidak terdokumentasikan pada lingkungan laut, dengan umpan balik potensial pada iklim global kita."

Penelitian ini sifatnya masih terbatas yakni hanya dilakukan pada area Samudera Selatan. Untuk itu, para peneliti berharap daerah lain dimana fenomena laut yang membawa oksigen dan nutrisi ke permukaan semacam ini juga bisa responsif terhadap pemupukan besi dari kebakaran hutan.

(wk/zodi)

You can share this post!

Related Posts