Jepang Ingin Cabut Keadaan Darurat COVID-19 Di Sebagian Wilayah Pada Akhir Bulan
Dunia
Pandemi Virus Corona

Jepang saat ini masih menetapkan status keadaan darurat COVID-19 di sejumlah wilayahnya. Akan tetapi, pemerintah ingin memberi sedikit pelonggaran pembatasan COVID-19 kepada masyarakat.

WowKeren - Pemerintah Jepang selama pandemi COVID-19 berlangsung, menerapkan sistem keadaan darurat di wilayah yang angka kasusnya tinggi. Hal ini dilakukan sebagai upaya untuk menekan angka COVID-19 agar tidak semakin tinggi.

Pada Selasa (21/9) hari ini, sumber pemerintah dan partai yang berkuasa menuturkan bahwa pemerintah Jepang ingin mencabut keadaan darurat COVID-19, setidaknya di sebagian wilayah yang mencakup 19 prefektur pada akhir bulan September. Melansir Kyodo News, menurut sumber tersebut, Perdana Menteri (PM) Yoshihide Suga akan segera mengumumkan hal tersebut.

"Perdana Menteri Yoshihide Suga diperkirakan akan mengumumkan keputusannya pada pertemuan gugus tugas Selasa depan," terang sumber.

Selama pemerintah Jepang menerapkan keadaan darurat COVID-19, masyarakat diimbau untuk tidak dan menghidari kegiatan bepergian ke daerah yang ramai. Kemudian, restoran juga diminta tutup pada jam 8 malam dan tidak menyajikan minuman beralkohol.


Selain itu, pemerintah juga melarang masyarakat untuk menghadiri acara-acara besar seperti konser dan tempat olahraga seperti gim dibatasi hingga 5 ribu atau 50 persen dari kapasitas tempat. Ibu Kota Jepang sendiri pada 12 Juli lalu, menjadi subjek deklarasi darurat untuk bergabung dengan Okinawa, dan prefektur lainnya ditempatkan di bawah tindakan itu pada Agustus.

Masih melansir Kyodo News, Suga yang diketahui akan mundur beberapa hari setelah Partai Demokrat Liberal memilih pemimpin barunya pada 29 September nanti, sangat ingin melonggarkan pembatasan untuk 19 wilayah. Termasuk di antaranya adalah Osaka dan Aichi sebelum meninggalkan jabatannya.

Sementara itu, Yasutoshi Nishimura, selaku menteri yang bertanggungjawab atas tanggapan pandemi Jepang, menyatakan bahwa infeksi nasional memuncak sekitar 25 ribu per hari pada bulan Agustus dan terus menurun sejak saat itu. Adapun penurunan itu dengan 2.224 kasus baru dilaporkan pada Senin (20/9) kemarin.

"(Kasus COVID-19) berada dalam tren penurunan di seluruh negeri dan indikator di Tokyo telah meningkat secara signifikan," terang Nishimura pada konferensi pers, Selasa (21/9).

Akan tetapi, sejumlah rumah sakit diketahui masih menangani sebagian besar pasien COVID-19 dengan gejala parah. Hal ini memicu kekhawatiran terjadinya muncul wabah baru.

(wk/tiar)

You can share this post!

Related Posts