Taliban Janji Akan Segera Izinkan Siswi Kembali ke Sekolah Usai Banyak Diprotes
AFP/Aref Karimi
Dunia

Taliban mendorong siswa dan guru laki-laki di Afghanistan untuk kembali ke sekolah, sedangkan izin serupa tidak segera turun untuk murid perempuan. Taliban pun memberi penjelasan.

WowKeren - Hak asasi perempuan Afghanistan di bawah pemerintahan Taliban terus menjadi sorotan. Sebab diketahui Taliban menjanjikan pemerintahan yang inklusif, termasuk melibatkan perempuan, namun praktiknya tidak selalu seperti yang dijanjikan.

Termasuk dengan Afghanistan yang tidak mengizinkan siswi perempuan bersekolah sementara waktu. Dan ketika terus dikonfrontasi mengenai kapan siswi-siswi ini bisa kembali bersekolah, Taliban hanya menjawab akan sesegera mungkin menurunkan izin.

Hal ini seperti disampaikan Juru Bicara Taliban, Zabihullah Mujahid, di konferensi persnya pada Selasa (21/9) waktu setempat. "(Taliban) sedang memfinalisasi beberapa hal dan siswi sekolah menengah bisa kembali bersekolah sesegera mungkin," ujar Mujahid di Kabul, dikutip dari Al Jazeera, Rabu (22/9).

Padahal pada akhir pekan sebelumnya, Kementerian Pendidikan Afghanistan mendesak agar seluruh guru dan siswa laki-laki kembali bersekolah. Namun dalam pengumuman tersebut tidak ada kebijakan terkait kelanjutan pendidikan perempuan.


Sejauh ini Taliban menegaskan bahwa murid perempuan hanya boleh diajar oleh guru dengan jenis kelamin serupa, atau guru laki-laki yang sudah tua. Sedangkan mahasiswi bisa kembali berkuliah, bahkan sampai tingkat pascasarjana, di universitas khusus perempuan.

Mujahid menyebut pihaknya tengah merancang lingkungan yang aman untuk siswi sekolah menengah kembali belajar. Meski demikian tidak ada informasi detail mengenai keamanan seperti apa yang disiapkan dan dikejar oleh Taliban. Pasalnya di pemerintahan sebelumnya, siswa dan siswi sekolah menengah pun dipisah dalam proses belajarnya.

Hal ini yang semakin memicu kekhawatiran Taliban akan "menyingkirkan" perempuan dari berbagai aspek kehidupan sosial seperti era pemerintahan mereka sebelumnya. Pasalnya di rezim Taliban era 1990-an hingga kejatuhannya pada 2001, kelompok milisi tersebut melarang perempuan untuk bersekolah dan hanya dokter perempuan yang boleh bekerja.

Saat ini Taliban pun tetap mengizinkan perempuan di Kementerian Kesehatan untuk bekerja, bahkan beberapa perwakilan mereka menemui para tenaga kesehatan untuk memastikan izin tersebut. Namun beberapa pekerja di Kabul, Herat, dan Kandahar mengaku tidak diperbolehkan kembali bekerja di bawah arahan Taliban.

(wk/elva)

You can share this post!

Related Posts