Negara Kaya Bersiap Suntikkan Booster Vaksin COVID-19, Afrika 'Menjerit' Belum Dapat Dosis Pertama
AP Photo/Jerome Delay
Dunia
Vaksin COVID-19

Pada pertengahan September, kurang dari 4 persen orang Afrika divaksin. Ironisnya, sebagian besar dari 5,7 miliar dosis vaksin di seluruh dunia hanya disalurkan ke 10 negara kaya.

WowKeren - Penyaluran vaksin COVID-19 yang belum merata di sejumlah wilayah masih menjadi permasalahan dalam upaya membebaskan dunia dari pandemi COVID-19. Kesenjangan pun terjadi, ketika ada sejumlah negara yang tengah bersiap untuk memberikan suntikan dosis ketiga namun di lain sisi ada bagian lain di dunia yang bahkan belum menerima suntikan dosis pertama.

Situasi ini memberikan pengingat yang gamblang kepada para pemimpin dunia di Majelis Umum PBB pada hari Kamis (23/9) bahwa "Tidak ada yang aman kecuali kita semua aman". Pesan itu diulangi sepanjang hari karena ketidakadilan distribusi vaksin menjadi fokus yang tajam.

Pada pertengahan September saja, baru ada kurang dari 4 persen orang Afrika yang telah diimunisasi lengkap. Hal ini tentu saja ironis mengingat sebagian besar dari 5,7 miliar dosis vaksin yang diberikan di seluruh dunia telah disalurkan hanya di 10 negara kaya.

Presiden Chad Mahamat Idriss Deby Itno memperingatkan bahaya jika ada negara-negara tetap dibiarkan dengan kondisi inokulasi yang lambat. Ia menekankan bahwa virus tidak mengenal benua terlebih lagi status sosial. "Virus itu tidak mengenal benua, perbatasan, apalagi kebangsaan atau status sosial," kata Itno kepada Majelis Umum.


Itu artinya, negara mana saja yang tidak divaksin tentu akan menjadi sumber penyebaran dan pengembangan varian baru. Untuk itu, ia menyerukan agar akses vaksin lebih merata.

"Dalam hal ini, kami mendukung seruan berulang-ulang dari Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa dan Direktur Jenderal (Organisasi Kesehatan Dunia) yang mendukung akses ke vaksin untuk semua," tegasnya. "Keselamatan umat manusia bergantung pada hal tersebut."

Banyak negara yang mengakui adanya jurang perbedaan yang lebar dalam mengakses vaksin, melukiskan gambaran yang begitu suram. Presiden Afrika Selatan Cyril Ramaphosa menyebut kondisi ini memprihatinkan. Ia menyentil komunitas global yang menurutnya belum mampu mempertahankan prinsip solidaritas dalam hal pemerataan vaksin.

"Ini adalah dakwaan terhadap kemanusiaan bahwa lebih dari 82 persen dosis vaksin dunia telah diperoleh oleh negara-negara kaya," tegasnya. "Sementara kurang dari 1 persen telah diberikan kepada negara-negara berpenghasilan rendah."

(wk/zodi)

You can share this post!

Related Posts