Ingatkan Bencana HAM Di Myanmar, PBB Desak Internasional Bertindak Lebih Keras Sebelum Terlambat
Instagram/unitednations
Dunia

Kudeta yang berlangsung sejak Februari lalu di Myanmar hingga saat ini tampaknya belum juga berakhir. Maka dari itu, PBB mendesak internasional untuk memberi tindakan keras sebelum semakin kacau.

WowKeren - Keadaan Myanmar hingga saat ini belum menunjukkan tanda-tanda akan pulih dari kekacauan yang dimulai sejak kudeta junta militer pada Februari lalu. Tampaknya keadaan di Myanmar justru semakin parah.

Michelle Bachelet selaku Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia (HAM) telah memberikan peringatan mengenai bencana HAM di bawah kekuasaan militer di Myanmar. Selain itu, Bachelet juga mendesak agar masyarakat internasional bisa berbuat lebih banyak untuk mencegah konflik di Myanmar menjadi lebih buruk.

"Konsekuensi nasional sangat mengerikan dan tragis, konsekuensi regional juga bisa sangat besar," terang Bachelet dalam sebuah pernyataan pada Kamis (23/9) kemarin. "Masyarakat internasional harus melipatgandakan upayanya untuk memulihkan demokrasi dan mencegah konflik yang lebih luas sebelum terlambat."

Melansir Al Jazeera, Myanmar telah berada dalam kekacauan sejak militer merebut kekuasaan melalui kudeta pada 1 Februari lalu, dan mengakhiri 10 tahun langkah tentatif menuju demokrasi dan memicu kemarahan baik di dalam maupun luar negeri. Sejak kudeta berlangsung, setidaknya lebih dari seribu orang telah tewas.


Menurut PBB, selama kudeta berlangsung, banyak tindakan keras nasional oleh pasukan militer terhadap pemogokan dan protes oleh mereka yang menentang junta kembali berkuasa. Selain ribuan orang tewas, ratusa masyarakat juga telah ditangkap.

Lebih lanjut, adanya bentuk perlawanan dari masyarakat yang memberontak dan membentuk pasukan perlawanan bersenjata di berbagai daerah, memicu ribuan orang memutuskan untuk melarikan ke negara tetangga, seperti India. Hal ini telah terjadi dalam beberapa hari terakhir.

Masih melansir Al Jazeera, pada Kamis (23/9) kemarin, ada seorang warga sipil yang dilaporkan terpaksa harus meninggalkan desanya di wilayah Sagaing setelah pasukan militer membakar rumah dan menembaki warga. Kekerasan ini juga terjadi satu hari setelah ribuan orang meninggalkan negara bagian Chin di dekat perbatasan India, menyusul pertempuran antara pemberontak anti kudeta dengan militer.

Bachelet mengungkapkan bahwa serangan yang diluncurkan oleh junta militer kepada warga Myanmar itu menggunakan senjata. "Serangan udara dan serangan artileri tanpa pandang bulu," imbuhnya.

(wk/tiar)

You can share this post!

Related Posts