Tiongkok Larang Seluruh Transaksi Mata Uang Digital Demi Tekan Risiko Finansial
Pexels/Karolina Grabowska
Dunia

Bank sentral negara itu, People's Bank of China, menganggap bahwa transaksi yang melibatkan mata uang virtual bisa berdampak pada terganggunya tatanan ekonomi dan keuangan.

WowKeren - Setiap negara memiliki kebijakan masing-masing untuk menjaga perekonomian mereka agar tetap stabil. Tentu saja, kebijakan yang diambil tidak sama antara negara satu dengan yang lainnya.

Seperti misalnya Tiongkok. Negara ini melarang segala aktivitas transaksi yang melibatkan mata uang virtual. Pada hari Jumat (24/9), Bank sentral Tiongkok mengatakan bahwa mereka akan melarang semua transaksi mata uang virtual termasuk Bitcoin. Tak hanya itu, mereka juga menganggap transaksi yang melibatkan mata uang virtual sebagai kegiatan ilegal.

Pemerintah Komunis ini memang sudah melarang bank-bank di sana melakukan transaksi yang melibatkan mata uang digital selama ini. Namun tampaknya, negara memperketat pembatasan setelah terjadinya gejolak pasar keuangan baru-baru ini.

Peraturan Tiongkok yang ditujukan untuk menindak pencucian uang serta spekulasi telah sangat mempengaruhi nilai global mata uang virtual. Sejak awal bulan ini, pasar keuangan di seluruh dunia telah diterpa kekhawatiran atas kemungkinan gagal bayar Evergrande Group.


Evergrande Group adalah pengembang properti utama di negara tersebut. Krisis keuangan yang dialami grup tersebut dinilai dapat memicu krisis perbankan global lainnya seperti yang terjadi pada tahun 2008.

Bank sentral negara itu, People's Bank of China, menganggap bahwa transaksi yang melibatkan mata uang virtual telah berdampak pada banyak hal. Tak hanya mengganggu tatanan ekonomi dan keuangan, transaksi mata uang digital juga bisa menyebabkan terjadinya praktik pencucian uang.

Tak cukup sampai di situ, bank tersebut juga menyebutkan potensi risiko lainnya jika transaksi yang menggunakan mata uang digital terus berlanjut, misalnya munculnya penggalangan dana ilegal, penipuan dan kegiatan ilegal lainnya. Bank tersebut juga menambahkan bahwa investor Tiongkok yang telah terlibat dalam transaksi terkait mata uang kripto harus "menangani sendiri kerugiannya yang dialami".

Sementara itu, jika dilihat secara global aset kripto belum dipandang sebagai alat pembayaran yang andal atau menarik. Hal ini disebabkan salah satunya karena nilainya yang fluktuatif. Terlebih lagi, sejumlah dugaan kasus pencucian uang yang melibatkan mata uang digital juga telah dilaporkan.

(wk/zodi)

You can share this post!

Related Posts