Setelah uji klinis bertahun-tahun, WHO akhirnya mengizinkan satu-satunya vaksin Malaria di dunia, Mosquirix, untuk diedarkan lebih luas di Afrika. Vaksin ini dikembangkan GSK Inggris.
- Elvariza Opita
- Kamis, 07 Oktober 2021 - 13:08 WIB
WowKeren - Di tengah pandemi COVID-19, Afrika menghadapi wabah lain yakni Malaria. Bahkan data 2019 menunjukkan 386 ribu warga Afrika meninggal akibat Malaria, angka yang jauh lebih tinggi daripada 212 ribu korban meninggal COVID-19 dalam 18 bulan belakangan.
Dan pada Rabu (6/10) waktu setempat, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menurunkan izinnya untuk mengedarkan satu-satunya vaksin Malaria yang sudah disetujui. Rekomendasi izin WHO ini turun untuk vaksin buatan perusahaan farmasi Inggris, GlaxoSmithKline (GSK) yang akan diperjualbelikan dengan merek Mosquirix.
"Vaksin Malaria yang sudah lama ditunggu ini adalah capaian besar di bidang sains. Vaksin ini dikembangkan di Afrika, oleh peneliti Afrika, dan kami sangat bangga," ujar Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, dikutip pada Kamis (7/10).
"Vaksin ini bisa digunakan untuk tambahan terhadap berbagai metode pencegahan Malaria," imbuh Ghebreyesus, merujuk pada beberapa alat pencegah Malaria seperti kelambu dan semprotan anti-nyamuk. "Ini bisa menyelamatkan hingga ribuan nyawa per tahun."
Sejak 2019, 2,3 juta dosis vaksin Mosquirix disuntikkan kepada bayi-bayi di Ghana, Kenya, dan Malawi, melalui program uji klinis yang dikoordinasi WHO. Ketiga negara dipilih karena banyaknya balita yang meninggal akibat Malaria di sana. Uji klinis ini sendiri merupakan follow up dari uji klinis di 7 negara Afrika selama satu dekade belakangan.
Namun vaksin ini ternyata hanya memiliki efektivitas hingga 30 persen untuk mencegah anak-anak penderita Malaria mengalami gejala klinis yang parah. Meski demikian vaksin ini merupakan satu-satunya yang telah mendapat izin dari otoritas berwenang, termasuk dari Regulator Obat-Obatan Uni Eropa yang menyetujuinya pada 2015 dengan menyatakan vaksin tersebut memiliki manfaat yang lebih besar daripada risikonya.
"Beginilah cara kami melawan Malaria, melapisi berbagai metode tak sempurna (demi hasil terbaik)," kata Ashley Brikett, pimpinan tim peneliti vaksin Malaria di organisasi kesehatan nirlaba Path. Organisasi ini pula yang membiayai pengembangan vaksin Mosquirix di GSK dan tiga negara Afrika.
Izin edar dari WHO ini pun disambut baik oleh pihak GSK yang sudah berkomitmen untuk memproduksi hingga 15 juta dosis dalam setahun. "Keputusan penting yang telah lama ditunggu ini dapat menghidupkan kembali perang melawan Malaria di wilayah Afrika," ujar Kepala Kesehatan Global GSK Thomas Breuer, sekaligus menambahkan bahwa upaya pengendalian Malaria di Afrika sudah terlalu lama "berjalan di tempat".
(wk/elva)