Hasil pantauan menunjukkan bahwa vaping lebih berbahaya jika dibanding manfaatnya. Rokok elektrik bukanlah pilihan yang lebih aman bagi orang yang ingin berhenti merokok.
- Zodiak Yanuarita
- Kamis, 07 Oktober 2021 - 15:41 WIB
WowKeren - Thailand tengah menjajaki cara untuk melegalkan penjualan rokok elektrik. Hal itu sebagaimana disebutkan oleh Menteri Ekonomi dan Masyarakat Digital (DES) Chaiwut Thanakamanusorn pada Selasa (5/10).
Penjajakan ini dilakukan di tengah penolakan dari para aktivis kesehatan dan aktivis anti-merokok. Ia mengatakan bahwa sejauh ini sudah ada sekitar 67 negara yang telah menyetujui penggunaan rokok elektrik sebagai alternatif rokok yang tidak terlalu berbahaya, sementara Thailand masih menolak untuk menerimanya.
Menteri mengatakan dia percaya vaping bisa menjadi pilihan yang lebih aman bagi mereka yang berjuang untuk berhenti merokok. Ia membeberkan bahwa saat ini ada setidaknya ada 10 juta perokok di negara itu.
Lebih jauh, menteri tersebut mengatakan akan lebih baik lagi jika tembakau yang ditanam di Thailand bisa diolah untuk dijadikan produk rokok elektrik. Tak hanya untuk memenuhi kebutuhan lokal namun juga mengekspornya ke luar negeri. Dengan begitu, ia percaya hal ini akan mendatangkan manfaat baik bagi Otoritas Tembakau Thailand maupun petani tembakau.
Sementara itu, Aliansi Nasional Thailand Bebas Tembakau (NATFT) mengeluarkan pernyataan yang meminta pemerintah meningkatkan upaya perlindungan masyarakat dari segala bentuk produk tembakau. Ketua NATFT Dr Somsri Pausawasdi menegaskan jika pemerintah melegalkan rokok elektrik justru akan memperburuk situasi di sana.
"Berbagai elemen masyarakat, baik pemerintah maupun non-pemerintah, telah bekerja keras untuk mengurangi jumlah perokok," tegasnya. "Sehingga melegalkan rokok elektrik hanya akan memperburuk situasi."
Ia menekan bahwa setiap tahunnya ada ribuan orang meninggal di Thailand yang penyebabnya dikaitkan dengan rokok. Prof Dr Ronnachai Kongsakon, direktur Pusat Penelitian dan Manajemen Pengetahuan Pengendalian Tembakau mengatakan bahwa pakar medis di NATFT dan di tempat lain telah memantau dengan cermat studi yang dilakukan terhadap rokok elektrik di seluruh dunia.
Hasil pantauan menunjukkan bahwa vaping lebih berbahaya jika dibandingkan dengan manfaatnya. Rokok elektrik bukanlah pilihan yang lebih aman bagi orang yang ingin berhenti merokok sementara pengetahuan tentang efek jangka panjangnya terhadap kesehatan masih terbatas untuk saat ini, katanya.
(wk/zodi)