Amerika Serikat menegaskan komunikasi mereka dengan Taliban tetap berjalan, namun pertemuan tatap muka di Doha, Qatar adalah yang pertama kali dilakukan. Lalu apa yang akan dibahas?
- Elvariza Opita
- Sabtu, 09 Oktober 2021 - 12:02 WIB
WowKeren - Sejak Amerika Serikat menarik pasukannya dari Afghanistan per 31 Agustus 2021, komunikasi kedua negara memang belum pulih sepenuhnya. Apalagi semenjak Taliban kembali menguasai pemerintah Afghanistan yang terus menjadi sorotan AS.
Namun kini perwakilan AS dan Taliban siap menggelar pertemuan tatap muka pertama kali, demikian yang disampaikan AS pada Jumat (8/10) waktu setempat. Delegasi AS dan perwakilan senior Taliban akan bertemu di Ibu Kota Qatar, Doha, pada Sabtu-Minggu waktu setempat.
Pada kesempatan itu, AS pun menegaskan bahwa komunikasi di antara kedua pihak selama ini tetap terjalin namun belum pernah dilakukan secara tatap muka. Lantas apa yang akan dibahas dalam pertemuan tersebut?
"Kami akan menekan Taliban untuk menghormati hak-hak semua warga Afghanistan, termasuk perempuan," ujar Juru Bicara AS, dikutip dari CGTN, Sabtu (9/10). "Sekaligus agar mereka membentuk pemerintahan inklusif dengan dukungan yang lebih luas."
"Dengan Afghanistan yang menghadapi ancaman kontraksi ekonomi parah serta krisis kemanusiaan di masa depan, kami juga mendesak Taliban untuk mengizinkan akses bebas badan kemanusiaan untuk menjangkau semua yang memerlukan bantuan," imbuhnya. Meski demikian AS menekankan belum menerima keberadaan Taliban sebagai pemerintah Afghanistan yang sah.
"Kami memastikan bahwa pengakuan harus didapat dari usaha Taliban sendiri," ujar sang juru bicara. Lalu apa pula tanggapan Taliban soal desakan AS ini?
Perwakilan Taliban untuk PBB, Suhail Shaheen, dalam wawancara eksklusifnya dengan Al Jazeera menekankan bahwa Emirat Islam Afghanistan selalu siap membentuk pemerintahan yang inklusif. Namun bukan berarti inklusivitas pemerintah Afghanistan bisa diatur oleh negara lain.
Sejauh ini, tegas Shaheen, sudah ada representasi etnis minoritas di kabinet pemerintahan Afghanistan. Sedangkan untuk perwakilan perempuan akan ditambahkan dalam beberapa waktu ke depan.
"Komunitas internasional harus menghormati harapan warga Afghanistan," tegas Shaheen. Meski demikian, sejauh ini ketegasan Taliban untuk mengakui hak-hak asasi semua kaum termasuk perempuan masih diragukan oleh komunitas internasional.
(wk/elva)