Thailand mengklaim bahwa Molnupiravir ampuh untuk menurunkan tingkat risiko rawat inap dan kematian bagi masyarakat yang terpapar COVID-19. Perusahaan Farmasi AS, Merck pun tengah memproduksinya.
- Tiara Yola Ade Ramadhanti
- Selasa, 19 Oktober 2021 - 12:21 WIB
WowKeren - Belakangan ini, Perusahaan Amerika Serikat (AS), Merck tengah memproduksi obat oral COVID-19, Molnupiravir. Obat ini disebut mampu menurunkan tingkat risiko rawat inap dan kematian terhadap pasien COVID-19. Sebelumnya, Uni Eropa juga akan mulai meninjau obat tersebut.
Baru-baru ini, Kepala Pusat Keunggulan dalam Virologi Klinis di Universitas Chulalongkorn, Yong Poovorawan mengatakan bahwa Molnupiravir dapat membantu mengurangi risiko rawat inap atau kematian terhadap orang-orang yang terpapar atau pasien COVID-19. Ia menyebut bahwa obat yang dikembangkan oleh Merck ini sangat efektif, apabila pasien meminumnya dalam kurun waktu lima hari sejak pertama kali mengalami gejala.
Dalam hasil penelitian yang bertajuk "Molnupiravir, Pengobatan Antiviral Oral untuk COVID-19" yang dipublikasikan melalui situs medRxiv, kata Yong, menunjukkan bahwa obat tersebut manjur. "Molnupiravir adalah antivirus kerja langsung oral pertama yang terbukti sangat efektif dalam mengurangi virus menular COVID-19 nasofaring dan RNA virus dan memiliki profil keamanan dan tolerabilitas yang menguntungkan," bunyi penelitian.
Saat ini, Molnupiravir masih berupaya untuk bisa mendapatkan persetujuan penggunaan dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (FDA) AS. Sementara itu, lima perusahaan farmasi India telah diizinkan untuk memproduksinya yang akan membuat harganya lebih murah. Hal ini disampaikan Yong melalui keterangan tertulis di laman Facebook-nya pada Senin (18/10).
Di sisi lain, Nimit Tienudom selaku seorang aktivis yang mempromosikan akses pengobatan yang setara, telag mengajukan keluhan kepada Kementerian Kesehatan Masyarakat, Departemen Pelayanan Medis, dan Administrasi Makanan dan Obat-Obatan pada 12 Oktober lalu. Termasuk juga dengan harga Molnupiravir yang saat ini ditetapkan senilai 23 ribu Baht (setara Rp9,7 juta) per kursus.
Melansir Bangkok Post, kelompok sipil juga mengeluhkan bahwa Kementerian Kesehatan Masyarakat hanya bernegosiasi dengan Merck. Padahal, mereka menuntut agar pemerintah bisa merundingkan harga dengan Merck untuk pesanan pertama Molnupiravir bagi 200 ribu pasien. Kemudian, pemerintah harus beralih pesanan pembelian obat dari perusahaan India.
(wk/tiar)