WHO Ingatkan Kurangnya Jarum Suntik Ancam Vaksinasi COVID-19 di Afrika
pexels.com/ Gustavo Fring
Dunia

WHO mengatakan kekurangan jarum suntik di Afrika dapat menghambat perang melawan COVID-19 di benua itu. Kekurangan jarum suntik diprediksi mulai terjadi pada 2022.

WowKeren - Semakin meningkatnya kebutuhan akan vaksinasi, ada kekhawatiran lain yang muncul terkait ketersediaan alatnya. Jumlah persediaan jarum suntik yang kian menipis turut menjadi perhatian Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

WHO mengatakan pada Kamis (28/10) bahwa kekurangan jarum suntik di Afrika dapat menghambat perang melawan COVID-19 di benua itu. Kekurangan jarum suntik ini diprediksi akan mulai terjadi pada tahun 2022 mendatang, sebagaimana yang dikatakan oleh Direktur UNICEF Henrietta Fore mengatakan pada hari Rabu (27/10).

Pada Kamis (28/10), direktur WHO Afrika, Matshidiso Moeti, mengatakan kekurangan tersebut menyebabkan ancaman yang tinggi bagi populasi yang rentan di benua itu. Menipisnya persediaan jarum suntuk tak sejalan dengan upaya inokulasi di benua itu ketika vaksin mulai dikirimkan.

"Awal tahun depan, vaksin COVID-19 akan mulai mengalir ke Afrika," katanya. "Tetapi kelangkaan jarum suntik dapat melumpuhkan kemajuan."


Oleh sebab itu, ia mendorong agar produksi jarum suntik segera ditingkatkan untuk mengatasi masalah tersebut. Sebab jika tidak, maka akan ada banyak nyawa orang Afrika yang menjadi taruhannya.

"Langkah-langkah drastis harus diambil untuk meningkatkan produksi jarum suntik, dengan cepat," tambahnya. "Kehidupan Afrika yang tak terhitung jumlahnya bergantung pada hal tersebut."

WHO lebih lanjut mengatakan jumlah kekurangan jarum suntik sekali pakai pada 2022 mendatang bisa mencapai 2,2 miliar. Adapun faktor penyebabnya adalah karena adanya gangguan dalam rantai pasokan dan larangan ekspor jarum suntik secara nasional.

Kekurangan tersebut berlaku untuk jarum suntik yang terkunci secara otomatis untuk mencegah penggunaan kembali. Komunitas berpenghasilan menengah dan rendah akan paling terpukul oleh kekurangan tersebut, kata Fore, di mana hanya baru ada sekitar 3 persen penduduk yang sudah divaksinasi.

Sementara itu, Afrika sendiri telah mencatat jumlah kasus COVID-19 mencapai 8.476.312 pada Rabu sore, kata Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Afrika (CDC Afrika). Afrika Selatan, Maroko, Tunisia, dan Ethiopia termasuk di antara negara-negara dengan kasus terbanyak di benua itu, menurut badan tersebut.

(wk/zodi)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait