Korea Utara terancam bencana kelaparan, namun Pyongyang dilaporkan meminta warganya untuk 'mengencangkan ikat pinggang' setidaknya sampai 3 tahun mendatang.
- Elvariza Opita
- Jumat, 29 Oktober 2021 - 14:42 WIB
WowKeren - Korea Utara menjadi salah satu negara yang berada dalam bayang-bayang bencana kelaparan. Sanksi yang dijatuhkan komunitas internasional sampai wabah COVID-19 menyebabkan negara yang juga dikenal sebagai Republik Demokrat Rakyat Korea (DPRK) tersebut diproyeksikan akan kehabisan bahan pangan dalam waktu dekat.
Dan kini pemerintah Korut dikabarkan meminta masyarakatnya untuk "mengencangkan ikat pinggang" alias mengurangi porsi makan mereka, setidaknya sampai tiga tahun ke depan.
Adalah media Radio Free Asia (RFA) yang melaporkan perintah Pyongyang ini. RFA sendiri, mengutip Mothership, merupakan media yang bertekad untuk menampilkan berita-berita lokal dari negara Asia dengan lingkungan jurnalistik yang buruk di seantero Asia.
Permintaan Pyongyang ini disampaikan lantaran perbatasan Tiongkok dan Korut ditutup akibat pandemi COVID-19 pada awal 2020. Dan Pyongyang memperkirakan perbatasan tersebut akan ditutup beberapa tahun ke depan, yang secara efektif akan menutup impor makanan ke negara tersebut.
Menurut RFA, Pyongyang meminta warganya untuk menanam makanan di rumah setidaknya untuk tiga tahun ke depan karena kemungkinan kecil perbatasan tersebut akan dibuka sebelum 2025. Sedangkan penutupan perbatasan tersebut, menurut Korut, adalah sebagai strategi untuk melawan COVID-19.
Media RFA mengutip sumber yang tak disebutkan namanya perihal propaganda pemerintah terkait pengendalian COVID-19. Pyongyang menekankan bahwa bahwa negara-negara lain mengalami keadaan COVID-19 yang lebih buruk, di mana jumlah kasus positifnya sangat besar, begitu pula dengan angka kematiannya.
Namun klaim Pyongyang ini tampaknya tak terlalu dipercaya penduduk Korut sendiri. Atas situasi yang dialami warga Korut saat ini, termasuk 25 juta warga Korut yang terancam kelaparan, menyalahkan pemerintah.
"Mereka mengatakan pada pertemuan itu bahwa situasi virus Corona di negara lain sangat buruk. Jumlah kematian terkait virus Corona meningkat pesan setiap hari di seluruh dunia," tutur sumber RFA yang tak disebutkan namanya.
"Tetapi penduduk tidak mempercayai penjelasan pihak berwenang," imbuhnya. "Dengan mengatakan, 'Tidak peduli seberapa sulit situasinya, di mana di Bumi mungkin ada orang yang mengalami lebih banyak kesulitan daripada kita?'"
(wk/elva)