Pimpinan tertinggi Taliban, Haibatullah Akhundzada, dirumorkan meninggal setelah tidak pernah muncul di hadapan publik. Namun pada akhir pekan ini Akhundzada muncul di Kota Kandahar.
- Elvariza Opita
- Minggu, 31 Oktober 2021 - 22:27 WIB
WowKeren - Selama ini sosok pemimpin tertinggi Taliban, kelompok milisi yang sekarang menguasai Afghanistan, nyaris tidak pernah terlihat. Bahkan setelah Taliban menduduki pusat pemerintahan Afghanistan, sosok Haibatullah Akhundzada sang pimpinan tertinggi yang tertutup itu tidak juga muncul di hadapan publik.
Situasi ini memicu munculnya rumor bahwa Akhundzada sebenarnya sudah meninggal dunia. Namun rumor tersebut akhirnya terpatahkan pada Minggu (31/10) di bagian selatan Kota Kandahar.
Pimpinan senior Taliban yang turut hadir mengungkap tujuan kehadiran Akhundzada. Rupanya sang pimpinan tertinggi Taliban tersebut mengunjungi sebuah sekolah keagamaan di Kandahar, Jamia Darul Aloom Hakimia, pada Sabtu (30/10) waktu setempat.
Akhundzada dikenal pula sebagai pimpinan yang suci atau Amir ul Momineen. Akhundzada sudah memegang tampuk tertinggi kepemimpinan Taliban sejak 2016 dan mengemban sejumlah kewenangan, seperti menjadi otoritas mutlak untuk aktiivtas politik, keagamaan, hingga militer Taliban.
Dengan posisi yang begitu strategis, Akhundzada nyatanya tidak pernah muncul sekalipun Taliban sudah berhasil mengusai pemerintahan Afghanistan. Hal inilah yang kemudian memicu rumor kematian sang pimpinan tertinggi Taliban, yang kini akhirnya terbantah.
Kendati demikian, sejumlah pejabat Taliban menyebut Akhundzada selama ini kerap tampil di hadapan meski tidak pernah dipublikasikan. Namun penampilannya di Kandahar akhir pekan ini merupakan yang pertama kali dikonfirmasi terhadap sosok low profile sang pimpinan tertinggi.
Di sisi lain, Afghanistan masih dihantui dengan berbagai ketidakstabilan pasca kembali berkuasanya Taliban. Bahkan negara tersebut terancam menghadapi bencana kemanusiaan berskala besar, dengan semakin banyaknya keluarga yang bisa terseret dala kemiskinan ekstrem. Atas situasi ini, beberapa orang tua dalam keadaan miskin ekstrem di Afghanistan yang rela menjual anak mereka demi membeli makan dan membayar utang.
Sementara itu, Taliban tetap berharap komunitas internasional mengakui pemerintahan mereka. Namun internasional masih menyoroti Taliban yang dianggap tidak inklusif, termasuk berpotensi memberedel hak asasi kaum perempuan dalam memperoleh pendidikan.
(wk/elva)