Berdasarkan perkiraan dari Peace Research Institute Oslo, angka kematian COVID-19 ini juga menyaingi jumlah orang yang tewas dalam pertempuran antar negara sejak tahun 1950.
- Bertilia Puteri
- Selasa, 02 November 2021 - 10:46 WIB
WowKeren - Dalam waktu kurang dari dua tahun, kasus kematian akibat COVID-19 di tingkat global telah menyentuh angka 5 juta pada Senin (1/11). Pandemi COVID-19 ini telah membawa efek yang menghancurkan bukan hanya untuk negara-negara miskin, namun juga negara-negara kaya yang memiliki sistem perawatan kesehatan terbaik.
Amerika Serikat, Uni Eropa, Inggris dan Brasil yang merupakan negara-negara berpenghasilan menengah ke atas atau tinggi tercatat telah menyumbang hampir separuh dari total kasus kematian COVID-19 global. AS menyumbang kasus kematian COVID-19 terbanyak di dunia dengan 745 ribu korban jiwa.
"Ini adalah momen yang menentukan dalam hidup kita," ujar spesialis penyakit menular di Yale School of Public Health, Dr. Albert Ko, dilansir AP News pada Selasa (2/11). "Apa yang harus kita lakukan untuk melindungi diri kita sendiri agar kita tidak mencatatkan 5 juta (kasus kematian COVID-19) lagi?"
Menurut perhitungan Universitas Johns Hopkins, korban jiwa pandemi COVID-19 ini hampir sama dengan populasi gabungan Los Angeles dan San Francisco. Berdasarkan perkiraan dari Peace Research Institute Oslo, angka kematian COVID-19 ini juga menyaingi jumlah orang yang tewas dalam pertempuran antar negara sejak 1950. Secara global, COVID-19 kini menjadi penyebab kematian nomor tiga setelah penyakit jantung dan stroke.
Meski demikian, jumlah kasus kematian COVID-19 ini diperkirakan lebih tinggi dari angka yang dilaporkan secara resmi. Mengingat masih terbatasnya pengujian COVID-19 dan adanya orang-orang meninggal di rumah tanpa perawatan medis di bagian dunia yang miskin.
Dalam 22 bulan sejak pandemi dimulai, hotspot penularan COVID-19 pun telah bergeser. Kini, virus corona tengah menyerang Rusia, Ukraina, dan bagian lain Eropa Timur, terutama di wilayah yang ramai diserang hoaks vaksinasi.
"Yang unik dari pandemi ini adalah pandemi ini paling parah melanda negara-negara dengan sumber daya tinggi," kata Dr. Wafaa El-Sadr, direktur ICAP, pusat kesehatan global di Universitas Columbia. "Itulah ironi dari COVID-19."
Menurut El-Sadr, hal ini bisa disebabkan oleh banyaknya lansia di negara-negara yang lebih kaya karena harapan hidupnya lebih tinggi. Sedangkan lansia merupakan kelompok usia yang sangat rentan terhadap COVID-19. Sedangkan di negara-negara miskin, jumlah anak, remaja, dan dewasa muda cenderung lebih tinggi hingga kecil kemungkinan mereka sakit parah akibat COVID-19.
(wk/Bert)