Pengumuman ini datang hanya selang waktu beberapa jam setelah insiden ledakan terjadi di rumah sakit militer terbesar Afghanistan di ibukota Kabul pada Selasa (2/11).
- Zodiak Yanuarita
- Rabu, 03 November 2021 - 15:29 WIB
WowKeren - Taliban telah mengeluarkan kebijakan baru, kali ini terkait penggunaan mata uang asing. Pada Selasa (2/11), Taliban telah mengumumkan larangan total bagi warga untuk menggunakan mata uang asing di Afghanistan.
Langkah tersebut dinilai berpotensi besar menyebabkan gangguan lebih lanjut terhadap ekonomi yang didorong ke ambang kehancuran oleh penarikan tiba-tiba dukungan internasional setelah pengambilalihan kelompok tersebut atas negara itu. Pengumuman ini datang hanya selang waktu beberapa jam setelah insiden ledakan terjadi di rumah sakit militer terbesar Afghanistan di ibukota, Kabul.
Serangan yang terjadi pada hari yang sama telah menewaskan sedikitnya 19 orang dan puluhan lainnya mengalami luka-luka. Dalam sebuah pernyataan yang diposting online oleh juru bicara Zabihullah Mujahid, kelompok itu mendesak agar warga tetap menggunakan mata uang afgani.
"Imarah Islam menginstruksikan semua warga, pemilik toko, pedagang, pengusaha dan masyarakat umum untuk melakukan semua transaksi dengan mata uang afgani," kata Taliban. "Dan secara ketat menahan diri dari menggunakan mata uang asing."
Lebih lanjut, Taliban menegaskan akan menjatuhi hukuman kepada siapa pun yang masih kedapatan menggunakan mata uang asing. "Siapa pun yang melanggar perintah ini akan menghadapi tindakan hukum," kata pernyataan itu.
Penggunaan mata uang asing memang bukan hal baru di Afghanistan. Di pasar-pasar, mata uang dolar AS masih digunakan secara luas. Sedangkan orang-orang yang ada di daerah perbatasan biasanya menggunakan mata uang negara tetangga seperti Pakistan untuk berdagang. Pemerintah Taliban telah mendesak untuk melepaskan miliaran dolar cadangan bank sentral saat Afghanistan menghadapi berbagai macam krisis mulai dari uang tunai, migrasi, hingga kelaparan massal.
Sebelumnya, pemerintah Afghanistan telah memarkir miliaran dolar aset di luar negeri. Namun, AS serta Bank Dunia dan Dana Moneter Internasional (IMF), memutuskan untuk memblokir akses Afghanistan ke aset dan pinjaman senilai lebih dari 9,5 miliar dolar setelah Taliban mengambil alih negara tersebut. Alhasil, keputusan ini memberikan pukulan pada perawatan kesehatan Afghanistan dan sektor lainnya ketika bantuan internasional ke negara itu semakin berkurang.
(wk/zodi)