Dinilai Sangat Ketat, Peneliti Asing Sebut Karantina Di Jepang Seperti 'Dipenjara'
Dunia

Sebagai informasi, saat ini Jepang tengah menerapkan pembatasan perjalanan internasional. Namun ada pengecualian bagi peneliti asing yang akan mengikuti program dengan The Japan Foundation.

WowKeren - Masing-masing negara saat ini tengah menerapkan sejumlah kebijakan pembatasan di masa pandemi COVID-19. Adapun salah satunya adalah menerapkan atau mewajibkan pelaku perjalanan internasional untuk karantina.

Kebijakan karantina bagi pelaku perjalanan internasional pun juga diterapkan oleh Jepang. Baru-baru ini peneliti asing yang diterima oleh lembaga yang berafiliasi dengan pemerintah Jepang harus mengikuti aturan karantina COVID-19.

Akan tetapi, menurut para peneliti asing tersebut, karantina yang lebih ketat di Jepang itu justru terasa seperti "dipenjara" di kamar hotel mereka sejak kedatangannya. Lebih dari 50 peneliti dalam sebuah program oleh Japan Foundation yang melakukan karantina itu tidak diizinkan meninggalkan kamar mereka sama sekali hingga 14 hari sejak kedatangan.

Selain itu, penjagaan keamanan juga berjaga-jaga untuk menangkap seseorang yang melakukan pelanggaran. Sebagai informasi, para cendekiawan itu telah tiba di Jepang sejak 28 Oktober lalu. Saat tiba, mereka langsung dibawa ke hotel dekat Bandara Narita, kawasan Tokyo, untuk karantina.


Melansir Kyodo News, Jepang saat ini sebenarnya tengah melakukan pembatasan perjalanan internasional. Tetapi, para peneliti asing itu merupakan pengecualian. Akan tetapi, kedatangan peneliti asing itu malah membandingkan karantina di Jepang dengan negara lain, bahkan menyebutnya seperti dipenjara hingga menyebutnya sebagai kasus "xenophobia".

Sebagai informasi, The Japan Foundation sendiri berafiliasi dengan Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) Jepang, melakukan program pertukaran budaya secara global dan mengundang para ahli studi Jepang dari luar negeri. Seorang pejabat yayasan mengatakan bahwa itu adalah prasyarat yang ditetapkan oleh otoritas Jepang yang relevan dan harus diikuti agar program dapat dilanjutkan.

Di sisi lain, Jepang sendiri telah menetapkan kebijakan periode karantina 14 hari bagi seluruh pelaku perjalanan internasional. Sementara bagi warga negara Jepang diminta untuk tidak pergi jika bukan hal yang mendesak.

Lebih ironisnya lagi, ada salah seorang peneliti asing yang bahkan menyebut bahwa sistem karantina di Jepang itu sebagai satu kasus "rasisme" terburuk. Selain itu, juga menyebut "Jepang mencemarkan dirinya sendiri dalam sejarah kontemporernya".

(wk/tiar)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait