Inter Ikea Group selaku perusahaan induk dari merek IKEA yang dioperasikan oleh serangkaian bisnis waralaba memperkirakan tantangan dalam rantai pasokannya akan terus ada hingga tahun 2022.
- Bertilia Puteri
- Kamis, 04 November 2021 - 11:30 WIB
WowKeren - Pemilik IKEA memperingatkan bahwa harga furnitur dan peralatan rumah tangganya akan naik akibat gangguan pada rantai pasokan. Peringatan ini disampaikan usai kenaikan biaya bahan baku dan transportasi menurunkan laba IKEA setahun.
Inter Ikea Group selaku perusahaan induk dari merek IKEA yang dioperasikan oleh serangkaian bisnis waralaba memperkirakan tantangan dalam rantai pasokannya akan terus ada hingga tahun 2022. Adapun selama pandemi COVID-19, IKEA diuntungkan dengan melonjaknya permintaan produk dari konsumen yang tertahan lockdown dan hendak merapikan rumah.
Meski demikian, laba sebelum pajak Inter Ikea Group turun 16 persen pada tahun fiskal hingga akhir Agustus menjadi € 1,7 miliar atau setara Rp 28,2 triliun. Laba tersebut 4 persen lebih rendah dibanding yang dicatatkan IKEA pada tahun 2019 sebelum pandemi COVID-19, meski tahun ini mereka telah mencapai rekor penjualan.
"Pandemi global mempengaruhi pendapatan operasional kami di FY21," papar pihak perusahaan, dilansir The Guardian pada Kamis (4/11). "Penyebab terbesar adalah kenaikan tajam dalam harga transportasi dan bahan baku di paruh kedua tahun keuangan."
Pihak perusahaan memperkirakan situasi ini akan berlanjut hingga tahun depan. "Menjaga agar toko dan gudang IKEA tetap penuh adalah sebuah tantangan. Gangguan rantai pasokan menyebabkan penurunan substansial dalam ketersediaan produk yang belum kami pulihkan," lanjutnya.
Sebelumnya, pihak perusahaan menjelaskan bahwa salah satu tantangan terbesarnya adalah mengekspor produk dari Tiongkok, dimana sekitar seperempat barangnya diproduksi. Toko-toko di Amerika Utara paling terpengaruh oleh kekurangan produk ini, diikuti oleh toko-toko di Eropa.
Inter Ikea mengatakan mereka harus membebankan sebagian dari biaya yang lebih tinggi ke toko-toko mereka. "Meskipun kami tidak dapat terus mengamankan harga tetap ke pengecer di bawah kondisi yang menantang ini, kami juga berencana untuk menyerap sebagian dari peningkatan biaya selama FY22," paparnya.
Berapa banyak jumlah kenaikan harga yang diteruskan ke konsumen pun akan menjadi kebijakan para pemilik toko.
(wk/Bert)