WHO Sebut Eropa dan Asia Tengah Kembali Jadi Pusat Pandemi COVID-19
Dunia

Menurut Direktur Regional WHO untuk Eropa, Dr. Hans Henri Kluge, kedua wilayah tersebut menyumbang hampir 60 persen dari semua kasus COVID-19 secara global selama seminggu terakhir.

WowKeren - Kasus COVID-19 di Eropa dan Asia Tengah mengalami peningkatan selama sebulan terakhir. Pada Kamis (4/11), Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) lantas menyatakan bahwa Eropa dan Asia Tengah kini kembali menjadi pusat pandemi COVID-19.

Menurut Direktur Regional WHO untuk Eropa, Dr. Hans Henri Kluge, kedua wilayah tersebut menyumbang hampir 60 persen dari semua kasus COVID-19 secara global selama seminggu terakhir. Kedua wilayah tersebut juga menyumbang hampir 50 persen dari total kematian COVID-19 global selama seminggu terakhir.

"Hari ini, setiap negara di Eropa dan Asia Tengah menghadapi ancaman nyata kebangkitan COVID-19, atau sudah menghadapinya," jelas Klunge dalam briefing di Denmark pada Kamis kemarin. "Kasus sekali lagi mendekati level rekor, dengan varian Delta yang lebih menular terus mendominasi transmisi di seluruh Eropa dan Asia Tengah."

Sebagai informasi, kedua wilayah tersebut mencatat hampir 2 juta kasus COVID-19 baru dan 24 ribu kematian dalam seminggu terakhir. Total kasus COVID-19 di Eropa saja kini telah mencapai angka 78 juta, lebih banyak dibanding jumlah kasus di Asia Tenggara, Mediterania timur, Pasifik barat, dan Afrika jika digabungkan.


Menurut Kluge, tiga perempat kasus kematian berasal dari kelompok lansia. Ia juga mengungkapkan bahwa tingkat rawat inap melonjak dua kali lipat hanya dalam waktu satu minggu.

Lebih lanjut, Kluge menuturkan bahwa setengah juta pasien COVID-19 di Eropa dan Asia Tengah bisa meninggal pada bulan Februari 2022 jika tak ada perubahan. Vaksinasi yang tidak memadai serta pencabutan pembatasan pandemi dinilai sebagai faktor utama yang berkontribusi dalam hal ini.

"Sangat penting bahwa pihak berwenang menginvestasikan semua upaya untuk mempercepat laju peluncuran vaksinasi," tutur Kluge.

Sementara itu, Catherine Smallwood selaku petugas darurat senior WHO Eropa mengatakan kepada The Guardian bahwa beberapa negara yang melonggarkan pembatasan telah mengalami lonjakan kasus yang nyata. Proyeksi menunjukkan apabila wilayah Eropa dan Asia Tengah mencapai 95 persen penggunaan masker universal, maka hampir 200.000 nyawa dapat diselamatkan selama tiga bulan ke depan.

(wk/Bert)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait