Bukan cuma dengan lampu UV, jejak virus Corona itu tetap bisa diamati dengan sinar lain seperti dari ponsel. Menariknya, pengembang menyadari penelitiannya berhasil karena melihat maskernya berpendar saat uji coba mandiri.
- Elvariza Opita
- Jumat, 05 November 2021 - 16:15 WIB
WowKeren - Pandemi COVID-19 yang sudah berlangsung selama 2 tahun membuat peneliti mengembangkan berbagai inovasi. Termasuk Presiden Universitas Perfektur Kyoto Jepang, Yasuhiro Tsukamoto (52) yang merupakan ahli kesehatan hewan.
Tsukamoto selama ini fokus pada penelitian antibodi burung onta. Latar belakang inilah yang membuat Tsukamoto tertarik untuk menciptakan inovasi di tengah pandemi COVID-19.
Dan penelitiannya berkembang hingga menemukan antibodi terhadap virus Corona. Untuk membuat hasil risetnya lebih efektif, Tsukamoto pun mengombinasikan antibodi dengan proteksi area wajah yang menjadi pintu masuk utama COVID-19.
Itulah asal-muasal hingga Tsukamoto berhasil mengembangkan masker "ajaib" yang mampu mendeteksi keberadaan virus Corona. Deteksi yang dimaksud adalah apabila virus Corona menempel di masker akan berpendar saat disinari dengan lampu ultraviolet (UV), atau bahkan lampu lain seperti sinar dari ponsel.
Kuncinya adalah dengan memodifikasi bagian filter masker. Ia memberikan sejumlah senyawa turunan protein burung onta yang bisa mensinyalkan keberadaan virus, dalam hal ini virus SARS-CoV-2.
Filter khusus lainnya pun dikembangkan, yakni berupa antibodi fluoresensi yang bisa bereaksi dengan radiasi sinar UV atau jenis cahaya lain. Singkatnya, filter masker tersebut telah diberi senyawa yang bisa bereaksi bila "ketempelan" virus Corona, dan senyawa yang terbentuk akan berpendar bila disinari dengan lampu UV.
Ide itulah yang dikembangkan dan diuji coba oleh dirinya sendiri pada musim panas 2021 ini. Namun ternyata Tsukamoto malah menemukan maskernya berpendar, membuatnya segera mengisolasi diri dan melakukan pemeriksaan COVID-19.
Hasilnnya, Tsukamoto ternyata benar terinfeksi COVID-19 setelah diperiksa dengan PCR. Selama masa isolasinya, Tsukamoto terus memakai masker modifikasinya tersebut dan tentu saja tetap menunjukkan pendar jejak virus Corona, hingga pada hari ketujuh jejak tersebut hilang. Ia pun juga dinyatakan sembuh secara metode medis konvensional.
Tsukamoto meyakini masker buatannya memang ampuh sebagai deteksi dini COVID-19. Ia pun menguji coba terhadap lebih dari 10 individu terinfeksi yang berkenan membantu penelitiannya. Tsukamoto juga melibatkan 8 orang sehat yang menggunakan masker tersebut dan hasilnya tidak ada jejak virus Corona yang berpendar dari sana.
Karena itulah, Tsukamoto percaya diri untuk bisa memasarkan produknya sebagai skrining awal. Apalagi karena masker modifikasinya tersebut diklaim tak berbeda dengan masker sekali pakai pada umumnya, sehingga dari luar pun penampilannya tak berbeda.
"Kalau virus di masker sekali pakai bisa dilihat, penyebaran infeksi bisa dihentikan di fase awal dan memberi rasa aman bagi masyarakat," kata Tsukamoto, dikutip dari Asahi Shimbun, Jumat (5/11). "Saya bisa memverifikasi bahwa masker saya berfungsi karena saya juga terinfeksi COVID-19. Dan hasilnya, meskipun ironi, tapi juga memuaskan bagi saya sebagai seorang peneliti."
(wk/elva)