Varian baru COVID-19 Omicron diketahui semakin menyebar ke banyak negara. Meski demikian, sejauh ini, WHO belum menerima laporan kasus kematian akibat varian Omicron.
- Tiara Yola Ade Ramadhanti
- Selasa, 07 Desember 2021 - 17:17 WIB
WowKeren - Baru-baru ini, muncul varian baru COVID-19 Omicron. Varian Omicron ini membuat geger dunia lantaran dinilai menular dengan sangat cepat dan bahkan kebal terhadap vaksin COVID-19.
Sejauh ini, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah mendeteksi varian Omicron di 38 negara. Akan tetapi dari negara tersebut belum ada yang melaporkan kasus kematian akibat varian Omicron.
Menanggapi banyak negara yang melakukan pembatasan kedatangan asing, WHO menilai hal ini dapat merusak pemulihan ekonomi global. Maka dari itu, WHO berharap agar negara di dunia tidak terlalu melakukan pengetatan pembatasan kedatangan asing.
Sementara itu, Amerika Serikat (AS) dan Australia menjadi negara terbaru yang mengkonfirmasi kasus varian Omicron yang ditularkan secara lokal. Sedangkan untuk di Afrika Selatan sendiri, kasus varian Omicron disebut telah mencapai lebih dari 3 juta kasus.
Lebih lanjut, WHO menegaskan bahwa untuk menentukan tingkat penularan dari varian Omicron ini membutuhkan waktu berminggu-minggu. Tidak hanya itu, dibutuhkan waktu juga untuk mengetahui apakah virus tersebut bisa menyebabkan penyakit yang lebih parah dan seberapa efektif perawatan dan vaksin untuk melawannya.
"Kami akan mendapatkan jawaban yang dibutuhkan semua orang di luar sana," tutur Direktur Kedaruratan WHO, Michael Ryan. Artinya bahwa, hingga saat ini WHO masih terus menguji mengenai karakteristik dari varian Omicron itu sendiri.
WHO memaparkan bahwa sejauh ini masih belum tercatat adanya laporan kematian akibat varian Omicron. Akan tetapi, dengan adanya penyebaran virus baru COVID-19 ini, diprediksi bakal membuat lebih dari setengah kasus di Eropa dalam beberapa bulan ke depan.
Selain itu, menurut WHO, varian baru COVID-19 juga bisa memperlambat pemulihan ekonomi global. Seperti yang terjadi sebelumnya, akibat munculnya varian Delta dan menyebar ke negara di dunia, membuat masing-masing pemerintah menerapkan kebijakan pengetatan pembatasan kedatangan asing.
"Bahkan sebelum kedatangan varian baru ini, kami khawatir bahwa pemulihan, sementara itu berlanjut, kehilangan momentum," terang Dana Moneter Internasional Kristalina Georgieva, Jumat (3/12). "Varian baru yang mungkin menyebar sangat cepat dapat merusak kepercayaan diri."
(wk/tiar)