Kemungkinan ini disampaikan oleh ahli epidemiologi dari London School of Hygiene and Tropical Medicine sekaligus anggota Kelompok Penasihat Ilmiah untuk Keadaan Darurat (Sage) pemerintah Inggris, Prof John Edmunds.
- Bertilia Puteri
- Jumat, 10 Desember 2021 - 19:38 WIB
WowKeren - Kasus COVID-19 Varian Omicron kemungkinan menyebar lebih cepat di Inggris dibandingkan di Afrika Selatan. Hal ini disampaikan oleh ahli epidemiologi dari London School of Hygiene and Tropical Medicine sekaligus anggota Kelompok Penasihat Ilmiah untuk Keadaan Darurat (Sage) pemerintah Inggris, Prof John Edmunds.
Edmunds memperingatkan bahwa Varian Omicron adalah "kemunduran yang sangat parah" dalam pengendalian pandemi COVID-19. Menurutnya, langkah-langkah rencana cadangan yang diumumkan oleh Perdana Menteri Boris Johnson "sama sekali bukan reaksi berlebihan" bahkan jika Omicron ternyata lebih ringan dari varian dominan saat ini.
Pada Rabu (8/12) malam, PM Johnson telah mengumumkan bahwa masyarakat harus bekerja dari rumah jika memungkinkan mulai Senin (13/12). Penggunaan masker juga akan menjadi persyaratan hukum di sebagian besar area dalam ruangan publik seperti teater dan bioskop, dengan pengecualian untuk makan dan minum.
Pada Kamis (9/12), Badan Keamanan Kesehatan Inggris mengidentifikasi 249 kasus Omicron, hampir dua kali lipat jumlah yang diumumkan sehari sebelumnya. Dengan demikian, jumlah kasus Varian Omicron di Inggris saat ini telah mencapai angka 817.
Edmunds lantas menyatakan bahwa "sangat mungkin" ada lebih banyak kasus Omicron di komunitas daripada yang dikonfirmasi oleh pengujian, dan jumlahnya akan melonjak dalam beberapa minggu ke depan. Apabila Inggris memiliki 1.000 kasus Varian Omicron hari ini, tutur Edmunds, maka waktu penggandaan dua hingga tiga hari akan mendorong jumlahnya hingga 8.000 kasus dalam seminggu dan 64.000 kasus dalam dua minggu.
"Tidak ada yang mau harus memperkenalkan kembali langkah-langkah ini. Ini sangat merusak sebagian ekonomi – sektor perhotelan dan ritel, khususnya, akan terpengaruh – tetapi sayangnya kita harus melakukannya," papar Edmunds. "Dengan kecepatan penyebaran virus ini, kita mungkin memiliki jumlah kasus yang sangat signifikan menjelang Natal."
Selain itu, Edmunds juga menepis anggapan jika Varian Omicron mungkin menjadi "kabar baik" apabila tingkat perawatan rumah sakitnya hanya separuh dari pasien Varian Delta. Anggapan ini muncul dari jumlah perawatan rumah sakit yang cukup rendah di Afrika Selatan.
Namun perlu dicatat bahwa populasi Afrika Selatan jauh lebih muda dibanding Inggris, sehingga kecil kemungkinan mereka mengalami penyakit COVID-19 yang parah. Usia rata-rata Inggris diketahui mencapai lebih dari 40 tahun, sedangkan di Afrika Selatan kurang dari 28 tahun.
"Saya pikir sangat konyol untuk mengangap ini adalah kabar baik; tidak bisa lebih jauh dari itu," tambahnya. "Ini adalah berita buruk yang mungkin bisa Anda dapatkan, sejujurnya."
Masih perlu waktu beberapa minggu bagi para ilmuwan untuk mengetahui seberapa parah penyakit ini di Inggris. Terlepas dari ketidakpastian, Edmunds mengatakan "sangat penting" bagi orang-orang untuk mendapatkan vaksin COVID-19 dosis ketiga alias booster "secepat mungkin".
(wk/Bert)