Pejabat Bucheon mengatakan sistem itu diharapkan mampu mengurangi ketegangan pada tim pelacak yang terlalu banyak bekerja di kota dengan populasi lebih dari 800.000 orang.
- Zodiak Yanuarita
- Senin, 13 Desember 2021 - 15:29 WIB
WowKeren - Korea Selatan punya cara lebih lanjut untuk melacak pergerakan orang yang terinfeksi COVID-19. Negara ini akan meluncurkan proyek percontohan yang melibatkan kecerdasan buatan (AI), pengenalan wajah, dan ribuan kamera video sirkuit tertutup untuk tujuan itu.
Proyek itu rencananya tetap akan dilakukan meskipun menuai kontroversi lantaran dikhawatirkan akan melanggar privasi seseorang. Proyek itu didanai secara nasional oleh Bucheon, yang merupakan salah satu kota terpadat di negara itu yang ada di pinggiran ibu kota Seoul.
Seorang pejabat kota mengatakan kepada Reuters bahwa proyek itu akan mulai beroperasi pada Januari mendatang. Tak hanya menggunakan algoritme AI, sistem ini juga akan mengusung teknologi pengenalan wajah untuk menganalisis rekaman lebih dari 10.820 kamera keamanan.
Sistem itu akan membantu negara melacak pergerakan orang yang terinfeksi, mereka yang memiliki kontak dekat, dan memastikan apakah warganya mengenakan masker. Rencana bisnis itu terdiri dari 110 halaman dan telah diserahkan kepada Kementerian Sains dan TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi).
Pejabat Bucheon mengatakan sistem itu diharapkan mampu mengurangi ketegangan pada tim pelacak yang terlalu banyak bekerja di kota dengan populasi lebih dari 800.000 orang. Sistem yang baru juga akan membantu menggunakan tim secara lebih efisien dan akurat.
Sementara itu, Korea Selatan telah memiliki sistem pelacakan kontak berteknologi tinggi. Sistem ini mampu mengumpulkan informasi pribadi warga negaranya termasuk catatan kartu kredit, data lokasi ponsel dan rekaman CCTV.
Kendati demikian, negara itu masih bergantung pada sejumlah besar penyelidik epidemiologi, yang seringnya harus bekerja shift 24 jam. Mereka bertugas melacak dan menghubungi orang-orang yang berpotensi terinfeksi virus corona.
Tentu saja, Korea Selatan bukan satu-satunya negara yang beralih ke teknologi baru dan memperluas kekuatan hukumnya untuk menangani gelombang infeksi COVID-19. Ada Rusia, Tiongkok, India, Jepang, dan tak ketinggalan Amerika Serikat yang telah bereksperimen dengan sistem pengenalan wajah dalam melacak pasien COVID-19, sebagaimana dilaporkan oleh Columbia Law School.
(wk/zodi)