Tak Ikut Bergabung Boikot Olimpiade Beijing 2022, Korsel Inginkan Hubungan yang Harmonis
AFP
Dunia

Sebelumnya, banyak negara Barat yang menyatakan memboikot perhelatan Olimpiade Beijing 2022, atas isu pelanggaran HAM di Tiongkok. Namun hal ini rupanya tidak dilakukan Korsel.

WowKeren - Seperti yang diketahui sebelumnya, banyak negara Barat yang memutuskan untuk memboikot Olimpiade Beijing 2022. Hal ini diketahui dikarenakan isu Hak Asasi Manusia (HAM) di Tiongkok.

Meski demikian, hal serupa tidak dilakukan oleh Korea Selatan (Korsel). Presiden Korsel, Moon Jae-in pada Senin (13/12), mengumumkan bahwa pihaknya mengesampingkan untuk bergabung dengan negara yang memboikot Olimpiade Beijing 2022, dengan alasan perlunya bekerja sama dengan Tiongkok.

Pada saat mengunjungi Canberra, Moon Jae-in menuturkan bahwa pihaknya "tidak mempertimbangkan" untuk menolak Olimpiade Beijing 2022 yang diketahui sebagai bentuk protes pelanggaran HAM di Tiongkok. "Kami belum menerima permintaan dari negara lain, termasuk Amerika Serikat (AS) untuk berpartisipasi dalam boikot diplomati," tutur Moon Jae-in dalam keterangan.


Sebelumnya, atas boikot Olimpiade Beijing 2022 yang dilakukan AS, Australia, Inggris, dan Kanada, Tiongkok telah memperingatkan bahwa mereka akan "membayar harga" atas tindakan protes tersebut. Sebagai informasi, tindakan protes yang dilakukan negara Barat itu merujuk pada pelanggaran Tiongkok terhadap minoritas Uyghur di Xianjiang dan demokrasi yang dibekap di Hong Kong.

Meski demikian, alasan lain Korsel tidak mengikuti negara Barat untuk memboikot Olimpiade Beijing 2022, Moon Jae-in menuturkan bahwa pihaknya menekankan ingin mempromosikan kawasan Pasifik yang bebas dan terbuka, serta menginginkan hubungan yang harmonis dengan Beijing. Namun, juga harus mempertimbangkan peran Tiongkok dalam mencoba membawa perdamaian ke Semenanjung Korea.

"Kami membutuhkan upaya konstruktif Tiongkok untuk memungkinkan denuklirisasi DPRK (Korea Utara)," lanjut Moon Jae-in.

Lebih lanjut, Moon Jae-in menuturkan bahwa saat ini, Korsel tengah melakukan kunjungan kenegaraan selama tiga hari ke Australia. Dari kunjungan ini, Korsel dan Australia diketahui menandatangani serangkaian perjanjian kerja sama teknologi dan militer. Termasuk penjualan 30 howitzer yang merupakan senjata artileri bergerak Korsel ke Australia sebagai bagian dari kontrak senilai sekitar USD720 juta atau setara dengan Rp10,3 triliun.

(wk/tiar)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait