Data Universitas Johns Hopkins menunjukkan kasus positif COVID-19 di Amerika Serikat sudah mencapai 51 juta. Sedangkan total kumulatif kasus global adalah sekitar 270 juta.
- Elvariza Opita
- Selasa, 14 Desember 2021 - 15:16 WIB
WowKeren - Amerika Serikat hingga kini menjadi negara dengan angka kasus positif COVID-19 terbanyak di dunia. Bahkan menurut penghitungan Universitas Johns Hopkins sudah menembus 50 juta kasus.
Bila merujuk pada worldometers.info, total sudah 51.018.282 kasus positif COVID-19 yang dikonfirmasi di Negeri Paman Sam. Dengan demikian AS menyumbang hampir 20 persen kasus positif COVID-19 di dunia yang per Selasa (14/12) mencapai 271.126.823.
Negara yang kini dipimpin Presiden Joe Biden itu pun menjadi penyumbang terbesar kasus kematian akibat COVID-19. Total pasien COVID-19 yang wafat di AS mencapai 819.315.
Angka ini berbeda 200 ribu kasus dibandingkan dengan Brasil yang menduduki urutan kedua negara dengan kasus kematian COVID-19 tertinggi di dunia. Sedangkan total kumulatif pasien COVID-19 yang meninggal dunia mencapai 5.329.212 nyawa.
Situasi ini membuat pemerintahan Biden berusaha mengakselerasi vaksinasi COVID-19. Hanya saja, menurut catatan Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit AS (CDC), baru 40 persen populasinya yang sudah mendapat dosis penuh vaksin COVID-19.
Di sisi lain, akhir dari pandemi COVID-19 tampaknya belum bisa dijumpai dalam waktu dekat. Pasalnya kini dunia pun dihadapkan dengan temuan varian baru virus Corona dengan tingkat mutasi di permukaannya yang begitu tinggi, yakni varian Omicron (B.1.1.529).
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah memasukkan Omicron sebagai varian yang mengkhawatirkan (Variant of Concern / VoC) per 26 November 2021, hanya selang beberapa hari setelah kasusnya menjadi sorotan di Afrika Selatan dan Inggris. Meski demikian masih diperlukan banyak riset untuk mengetahui karakteristik lebih lanjut dari varian Omicron, termasuk seberapa tinggi kemampuan menularnya sampai seberapa parah gejala yang bisa ditimbulkan.
WHO sejauh ini hanya mengungkap bahwa varian Omicron lebih mudah menginfeksi kembali pasien sembuh COVID-19. Di sisi lain, para peneliti dan pengembang vaksin menekankan pentingnya vaksinasi dosis penguat alias booster untuk melawan COVID-19 Omicron, bahkan kalau perlu sampai dosis keempat.
(wk/elva)