Tuduhan ini telah dibantah secara tegas oleh pihak Misionaris Charitas. Para aktivis mengatakan bahwa pemeluk agama minoritas di India justru menghadapi diskriminasi.
- Zodiak Yanuarita
- Selasa, 14 Desember 2021 - 20:35 WIB
WowKeren - Polisi India tengah menyelidiki dugaan pemaksaan pindah agama yang dilakukan oleh sebuah badan amal Bunda Teresa baru-baru ini. Pada Selasa (14/12), pihak berwenang di negara bagian barat kota Vadodara, Gujarat, mengatakan bahwa mereka sedang menyelidiki apakah organisasi Misionaris Charitas memaksa gadis-gadis di tempat mereka untuk mengenakan salib dan membaca Alkitab.
Diketahui, Gujarat yang merupakan negara bagian tempat Perdana Menteri Narendra Modi berasal adalah salah satu dari beberapa wilayah di India yang mayoritas penduduknya beragama Hindu. Melansir Al Jazeera di wilayah ini aturan yang tidak jelas yang menentang "pemindahan agama secara paksa" telah diberlakukan, atau ditegakkan dengan lebih ketat dalam beberapa tahun terakhir.
Petugas sosial distrik Vadodara Mayank Trivedi mengatakan kepada kantor berita AFP bahwa pengaduannya kepada polisi didasarkan pada laporan otoritas kesejahteraan anak dan pejabat distrik lainnya. Merujuk ke pengaduan, sebanyak 13 Alkitab telah ditemukan di perpustakaan institut tersebut.
Tak cukup sampai di situ, gadis-gadis yang tinggal di sana juga dipaksa untuk membaca teks religius. Kendati demikian, tuduhan ini telah dibantah secara tegas oleh pihak Misionaris Charitas. Diketahui, Misionaris Charitas didirikan pada 1950 silam oleh mendiang Bunda Teresa.
Para aktivis di sana mengatakan bahwa sejak Partai Bharatiya Janata Party (BJP) sayap kanan Modi berkuasa pada tahun 2014 lalu, pemeluk agama minoritas di India telah menghadapi peningkatan tingkat diskriminasi dan kekerasan. Mereka juga mengatakan bahwa selama tahun 2021 saja sudah ada lebih dari 300 insiden anti-Kristen.
Pekan lalu misalnya, gerombolan 200 hingga 300 orang menerobos masuk ke sebuah sekolah Kristen di Madhya Pradesh saat para siswa sedang mengikuti ujian. Mereka juga melempari batu ke gedung itu, kata kepala sekolah.
"Kami memindahkan anak-anak dari auditorium ke sayap lain sekolah," kata Kepala Sekolah St Joseph School Bruder Anthony Tynumkal. "Kami menempatkan mereka di lantai pertama dan memberi mereka waktu ekstra untuk menyelesaikan ujian. Tetapi para siswa tidak dapat menulis, mereka menangis dan gemetaran."
(wk/zodi)