Peneliti Hong Kong fokus pada kemampuan perbanyakan diri virus Corona varian Omicron di tubuh individu terinfeksi. Sedangkan peneliti Amerika Serikat melakukan pemodelan struktur virus dan sel inang.
- Elvariza Opita
- Kamis, 16 Desember 2021 - 16:04 WIB
WowKeren - Masih banyak yang perlu diteliti dari virus Corona varian Omicron (B.1.1.529). Termasuk soal pengaruh banyaknya mutasi yang ditemukan dengan kemampuan penularan, keparahan gejala yang ditimbulkan, hingga soal kekebalannya terhadap antibodi dan vaksin.
Kini hasil penelitian terkait sudah mulai dipublikasikan, termasuk karakteristik yang membuat varian Omicron lebih cepat menular ketimbang varian-varian COVID-19 lain. Peneliti dari Universitas Hong Kong, Dr Michae Chan Chi-wai, mengungkap bahwa virus Corona varian Omicron ini 70 kali lebih cepat memperbanyak diri di saluran pernapasan daripada varian Delta, namun melambat hingga 10 kali lipat dibanding virus Corona pada umumnya ketika mencapai paru-paru.
Sifat ini, menurut Chan, menyebabkan COVID-19 Omicron lebih mudah menular. Namun lambatnya replikasi di paru-paru menyebabkan gejala yang ditimbulkan COVID-19 Omicron tidak separah varian lain.
"(Namun) harus diingat bahwa keparahan penyakit pada seseorang bukan hanya ditentukan dari seberapa cepat replikasi virus, tetapi juga respons imun setiap individu terhadap suatu infeksi. Beberapa kali reaksi ini berevolusi menjadi inflamasi yang mengancam nyawa," jelas Chan yang penelitiannya masih diulas rekan sejawat, dikutip dari CGTN, Kamis (16/12).
Chan meyakini varian Omicron adalah ancaman serius. Pasalnya varian ini bisa menginfeksi jauh lebih banyak orang, yang bisa berujung pada lumpuhnya sistem kesehatan sebuah negara meski sebenarnya virus itu sendiri tidak terlalu menyebabkan keparahan penyakit.
"Gabungkan dengan studi yang menunjukkan varian Omicron bisa menghindari respons imun dari vaksin dan infeksi yang lalu," imbuh Chan. "Keseluruhan ancaman ini menjadikan varian Omicron sangat signifikan."
Peneliti dari Universitas Rutgers di New Jersey, Joseph Lubin, menyampaikan hasil penelitian yang menunjang kekhawatiran Chan. Sebab pemodelan komputer menunjukkan bahwa varian Omicron "menggenggam" sel tubuh lebih kuat daripada varian COVID-19 lain.
Secara metafora, virus Corona biasanya "berjabat tangan" dengan protein reseptor di permukaan sel tubuh inang yang bernama ACE2. "Namun Omicron seperti 'menggenggam tangan selayaknya pasangan dengan jari-jari yang saling bertaut'," papar Lubin, yang menurutnya bisa menjelaskan mengapa varian Omicron lebih mudah menginfeksi tubuh.
Hasil penelitian Lubin ini masih diulas rekan sejawat di situs bioRxiv. Namun Lubin menegaskan hasil risetnya masih harus diverifikasi, "terutama dengan sampel dari orang-orang secara langsung," tegas Lubin.
(wk/elva)