WHO mengungkap adanya sedikit penurunan terkait efektivitas vaksin dalam mencegah keparahan gejala atau kematian akibat COVID-19. Namun seberapa buruk situasinya?
- Elvariza Opita
- Kamis, 16 Desember 2021 - 16:44 WIB
WowKeren - Sejauh ini solusi yang bisa ditawarkan untuk menghadapi pandemi COVID-19 adalah vaksinasi. Meski kemanjurannya berkurang menghadapi varian baru yang ada, seperti Omicron misalnya, pakar kesehatan terus menegaskan pentingnya vaksinasi demi mengurangi potensi terjadinya keparahan gejala apabila terinfeksi virus Corona.
Namun Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyampaikan fakta yang cukup mengejutkan lantaran vaksin ternyata sudah tak terlalu ampuh dalam memberi perlindungan dari keparahan gejala COVID-19 maupun kematian. Hal ini disampaikan oleh Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus kala menjelaskan soal perkembangan terkini studi tentang varian Omicron.
Pada kesempatan yang sama, Tedros menegaskan bahwa varian Omicron mampu menular dengan kecepatan yang belum pernah dijumpai di varian lain sebelumnya, atau dengan kata lain sangat cepat. Saat itulah, Tedros kemudian mengaitkan kemampuan penularan COVID-19 Omicron dengan keparahan yang ditimbulkan serta efektivitas vaksin melawannya.
"Omicron menyebar dalam kecepatan yang belum kita jumpai di varian sebelumnya," ungkap Tedros pada Selasa (14/12) waktu setempat. "Walaupun Omicron sepertinya menyebabkan gejala yang lebih ringan, namun banyaknya jumlah kasus positif yang ditimbulkan bisa membebani sistem kesehatan."
"Bahkan bukti-bukti yang berkembang menunjukkan adanya sedikit penurunan terkait efektivitas vaksin melawan keparahan gejala dan kematian (akibat COVID-19), maupun penurunan dalam mencegah infeksi atau penyakit ringan," imbuh Tedors. Meski demikian ia tidak merinci secara spesifik penurunan efektivitas ini disebabkan oleh apa atau dengan mekanisme yang bagaimana.
Walau demikian, kembali Direktur Program Kedaruratan WHO Dr Mike Ryan menegaskan bahwa vaksin bukannya gagal memberi perlindungan dari keparahan gejala atau kematian akibat COVID-19. Malah sebaliknya, vaksin masih memberi perlindungan yang signifikan di aspek-aspek tersebut.
"Pertanyaannya adalah seberapa jauh perlindungan yang diberikan oleh vaksin yang ada sekarang, mana yang mampu menyelamatkan nyawa dari semua varian, dan lebih jauh lagi apakah kita akan kehilangan perlindungan dari keparahan penyakit dan kematian akibat Omicron. Data-data yang ada menunjukkan masih ada perlindungan yang signifikan," tegas Ryan.
Pada kesempatan yang sama, Tedros juga sempat menjawab soal penting atau tidaknya vaksinasi dosis ketiga alias booster. "Itu pertanyaan prioritas, pentingnya mengurutkan," ujar Tedros, menambahkan bahwa bukan perkara penting atau tidaknya, namun memastikan bahwa saat sebuah negara bisa memberikan vaksin booster, maka negara-negara lain juga setidaknya bisa mengakses dosis primer mereka.
(wk/elva)