Hingga saat ini, Muslim Kashmir di India diketahui masih terus berupaya memperjuangkan hak-haknya. Terlebih sebagian besar masjid Muslim Kashmir ditutup.
- Tiara Yola Ade Ramadhanti
- Kamis, 16 Desember 2021 - 18:55 WIB
WowKeren - Isu keagamaan di India tampaknya masih terus bergeming hingga saat ini. Seperti yang terjadi pada Masjid pusat di kota terbesar terbesar Kashmir yang dikelola India sebagian besar tetap ditutup selama dua tahun terakhir di tengah perselisihan sengit antara otoritas India dan Muslim Kashmir.
Melansir Al Jazeera, The Jamia Masjid diketahui selama berabad-abad mendominasi lingkungan di Srinagar dengan gerbang utama mengesankan dan menara besar. Adapun bangunan yang terbuat dari batu bata dan kayu ini merupakan salah satu masjid tertua di kota berpenduduk 1,2 juta jiwa itu, 96 persen di antaranya merupakan Muslim, dan sering dihadiri ribuan orang untuk salat.
Lebih lanjut, pada acara-acara khusus selama bertahun-tahun, ratusan ribu Muslim memenuhi jalur dan jalan terdekat untuk berdoa yang dipimpin dari masjid. Akan tetapi, pihak berwenang India melihat masjid tersebut sebagai tempat masalah pusat saraf untuk protes dan bentrokan yang menantang kedaulatan New Delhi atas wilayah Kashmir yang disengketakan.
Seperti yang diketahui, wilayah tersebut diklaim secara keseluruhan oleh India dan Pakistan yang menguasai sebagiannya. Sementara itu, bagi Muslim Kashmir, masjid dinilai sebagai tempat suci di mana mereka melaksanakan salat wajib pada hari Jumat dan juga menyuarakan hak-hak politik mereka. Di tengah ketegangan ini, sebagian besar masjid akhirnya ditutup selama kurang lebih dua tahun terakhir.
Masih melansir Al Jazeera, Imam kepala masjid sendiri disebut telah ditahan di dalam rumahnya hampir tanpa henti sepanjang waktu. Kemudian gerbang utama masjid digembok dan diblokir dengan lembaran timah bergelombang pada pekan lalu.
Sementara itu, penutupan masjid yang dihormati oleh sebagian besar penduduk Muslim Kashmir yang dikelola India itu telah memicu semakin dalamnya kemarahan di antara mereka. "Ada sesuatu yang hilang jauh di lubuk hati saya," tutur Bashir Ahmed (65) yang merupakan seorang pensiunan pegawai pemerintah yang telah salat di masjid selama lebih dari 50 tahun.
Di sisi lain, ketika dihubungi oleh kantor berita The Associated Press, pihak berwenang India enggan untuk memberikan tanggapan soal pembatasan masjid tersebut. Namun sebelumnya, pejabat India pernah mengatakan bahwa terpaksa menutup masjid karena komite manajemennya tidak dapat menghentikan protes anti-India di tempat itu.
(wk/tiar)